KLIK SAJA - November datang dengan aroma hujan dan kalender yang mulai menipis.
Lembar-lembar hari terasa seperti halaman buku yang segera berakhir.
Dan di tengah kesibukan yang seolah tak punya ujung, muncul satu pertanyaan kecil yang pelan tapi menggigit:
“Sudahkah kita benar-benar berubah tahun ini?”
Baca Juga: 4 Kali Gubernur Bumi Lancang Kuning Tersandung Korupsi: Cerminan Rasuah Mengakar Kuat di Riau
Antara Harapan dan Kenyataan
Setiap awal tahun, kita menulis daftar panjang resolusi: hidup lebih sehat, lebih hemat, lebih bahagia, lebih... segalanya.
Tapi sering kali, daftar itu berubah menjadi sekadar catatan di kertas kusut—diselipkan di balik kalender dan dilupakan saat rutinitas menelan niat.
Kita menunggu waktu yang "tepat" untuk mulai berubah, padahal waktu itu sudah lewat setiap kali kita menundanya.
Dan begitulah, tahun berjalan tanpa kita sadari bahwa kita masih di titik yang sama, hanya dengan usia sedikit lebih tua.
Antara Diri yang Sibuk dan Diri yang Lupa
Baca Juga: Empat Alasan Mengapa Menkeu Purbaya Disebut ‘Menteri Koboi’
Kita menyalahkan kesibukan karena lupa tersenyum pada diri sendiri.
Pekerjaan menumpuk, tagihan menanti, dan hidup modern seakan menuntut kecepatan tanpa henti.
Artikel Terkait
Alasan Mengapa Menkeu Purbaya Desak Pertamina Bangun Kilang Baru, Sesusah Itukah?
Wacana Pembentukan Undang Undang MBG di Tengah Merebaknya Kasus Keracunan Massal
Ada Apa Dibalik Ambruknya Ponpes Al Khoziny Sidoarjo? Hikmah Apa yang Bisa Diambil?
Apakah Tepuk Sakinah ala Kemenag Bisa Menekan Angka Perceraian? Antara Makna Simbolik dan Realita
Analisa Kritis Pemerintah Bantu Bangun Kembali Ponpes Al Khoziny yang Ambruk: Antara Empati Salah Kaprah dan Moral Hazard