Ketika Perang AS-Israel Melawan Iran Memperkuat Teologi Politik Syiah

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Minggu, 29 Maret 2026 | 22:43 WIB
Warga Iran masih setia mendukung pemerintahan Republik Islam (france 24)
Warga Iran masih setia mendukung pemerintahan Republik Islam (france 24)

KLIK SAJA – Topik Perang Amerika SerikatIsrael melawan Iran biasanya secara umum membahas tentang: penguasaan minyak, eskalasi klaim korban, ancaman tekanan militer, kapasitas rudal, hingga risiko nuklir.

Semua topik tersebut memang penting, tetapi tidak menceritakan keseluruhan gambaran.

Untuk memahami bagaimana Iran mungkin akan berperang dan bertahan dalam konflik ini, kita perlu melihat melampaui perhitungan militer dan masuk ke dalam dunia moral yang membentuk cara Republik Islam memahami kekuasaan, kehilangan, dan—yang terpenting—ketahanan.

Ini bukan sekadar sebuah negara yang diserang, melainkan entitas yang inti ideologinya telah lama dibentuk oleh teologi politik Syiah tentang kemartiran, pengorbanan, dan perlawanan suci.

Hal ini penting karena perang tidak hanya dilawan dengan senjata, tetapi juga dengan narasi dan nilai; makna itu sendiri dapat menjadi sumber kekuatan politik.

Sejak terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan AS–Israel selama Ramadan, kelompok garis keras menggelar upacara duka yang didukung negara malam demi malam, bahkan ketika bom terus berjatuhan.

Di antara para pendukung setia Republik Islam, khususnya dalam pasukan paramiliter Basij, terdapat orang-orang yang siap mati sebagai martir demi apa yang mereka yakini sebagai pemerintahan yang dipimpin oleh ulama yang mendapat bimbingan ilahi.

Menariknya, kelompok-kelompok non Syiah juga turut ke jalan-jalan melaknat AS dan Israel,dimana diantaranya banyak perempuan tak berhijab, yang seolah menunjukkan pada dunia, bahwa Iran tidaklah seseram seperti yang diberitakan oleh media barat.

Hal ini tidak berarti Republik Islam kebal. Sebaliknya, ini menunjukkan sesuatu yang lebih kompleks dan mengkhawatirkan: kekerasan eksternal mungkin tidak melemahkannya seperti yang diharapkan musuh-musuhnya.

Justru, kekerasan tersebut dapat mengaktifkan kembali tata simbolik dan moral yang selama beberapa dekade menopang keberlangsungan Republik Islam, sekaligus melegitimasi represi di dalam dan luar negeri.

Republik Islam sejak awal bukan sekadar negara birokratis. Ia mempresentasikan dirinya sebagai proyek moral yang memadukan kedaulatan dengan sejarah sakral.

Sumber emosional dan simbolik utama dari sejarah itu terletak pada ingatan Syiah, khususnya peristiwa Karbala tahun 680, ketika pasukan Umayyah membantai cucu Nabi Muhammad, Hussein, beserta rombongan kecil yang menyertainya.

Dalam tradisi Syiah, peristiwa tersebut melambangkan kekuasaan yang zalim, penderitaan yang tak bersalah, perlawanan yang benar, dan pengorbanan yang menebus.

Ia mengingatkan bahwa penindasan tidak selalu berarti kekalahan, penderitaan dapat menandakan keberpihakan pada kebenaran, dan kematian dapat menjadi bentuk kesaksian.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X