KLIK - Indonesia kini tercatat sebagai negara dengan kasus penipuan lowongan kerja terbesar di tingkat regional.
Temuan ini dipublikasikan oleh Seek—perusahaan induk Jobstreet dan Jobsdb—dalam laporan yang dirilis bertepatan dengan International Fraud Awareness Week 2025, Rabu (19/11/2025).
Laporan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia menjadi hotspot utama penipuan lowongan kerja, menyumbang 38 persen dari seluruh upaya penipuan di Asia Pasifik dan 62 persen dari total penipuan lowongan kerja di kawasan Asia.
Filipina berada di posisi kedua dengan kontribusi 20 persen.
Bidang yang Paling Banyak Disasar
Di Indonesia, pekerjaan administrasi dan pendukung kantor menjadi sasaran paling umum. Di tingkat Asia, kategori ini mencatat 29 persen dari total lowongan palsu—lebih tinggi dibanding Australia dan Selandia Baru yang hanya 17 persen.
Setelah itu, penipuan banyak menyasar sektor manufaktur, transportasi dan logistik—terutama posisi staf gudang—serta ritel, produk konsumer, perdagangan dan jasa, hingga perhotelan dan pariwisata.
Profesi-profesi ini rentan karena umumnya tidak memerlukan kualifikasi khusus atau pengalaman panjang.
Posisi sales juga menjadi target favorit penipu karena menawarkan skema komisi yang mudah dimanipulasi.
Modus Penipuan: Dari Komisi Palsu hingga Menyamar Jadi Staf Jobstreet
Modus penipuan lowongan kerja semakin beragam. Pelaku biasanya menawarkan penghasilan cepat berbasis komisi atau pekerjaan paruh waktu dengan tugas sederhana, seperti memberi like atau subscribe di media sosial.
Untuk memancing kepercayaan, penipu kadang mengirim komisi kecil di awal sebelum meminta korban melakukan deposit atau top-up yang akhirnya hilang tanpa jejak.
Baca Juga: Tok Resmi! Presiden Prabowo Beri Rehabilitasi Pada Eks Dirut ASDP Ira Puspadewi
Modus lain yang juga marak adalah penyamaran sebagai staf Jobstreet. Pelaku menghubungi korban lewat pesan singkat, aplikasi obrolan, atau media sosial untuk menawarkan lowongan yang sebenarnya tidak pernah ada.