Ketika Perang AS-Israel Melawan Iran Memperkuat Teologi Politik Syiah

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Minggu, 29 Maret 2026 | 22:43 WIB
Warga Iran masih setia mendukung pemerintahan Republik Islam (france 24)
Warga Iran masih setia mendukung pemerintahan Republik Islam (france 24)

Karena itu, kemartiran bukanlah tema sampingan dalam cara Republik Islam memahami dirinya, melainkan salah satu nilai utama yang mengorganisasi sistem tersebut.

Selama bertahun-tahun, rezim berkuasa memperoleh legitimasi dengan menampilkan diri sebagai korban yang benar sekaligus penjaga perjuangan suci melawan “Estekbar” (imperialisme), dominasi, penghinaan, dan agresi asing.

Sebuah tatanan politik-teologis yang dibangun sebagian di atas pensakralan pengorbanan mampu menyerap serangan ke dalam semesta moralnya sendiri.

Apa yang dari luar tampak sebagai kehancuran, dari dalam dapat dimaknai sebagai kesaksian, ketahanan, dan kesetiaan—bahkan kematian itu sendiri menjadi sesuatu yang produktif secara politik.

Ini bukan sekadar spekulasi. Strategi Iran dalam perang saat ini semakin mengarah pada ketahanan dan pengikisan: bertahan lebih lama dari musuh, menyerap pukulan, mengganggu aliran energi, dan bertaruh bahwa tekad politik di Washington dan ibu kota sekutunya akan retak sebelum tekad Iran sendiri.

Laporan menunjukkan bahwa meskipun mengalami kerugian besar, tidak ada tanda-tanda keruntuhan internal yang terlihat di tengah pemboman.

Ingatan akan perang Iran–Irak selama delapan tahun juga membentuk budaya ketahanan dan pengorbanan yang kuat, sekaligus pengalaman dalam menghadapi tekanan eksternal berkepanjangan, meskipun biaya kemanusiaan bagi rakyat Iran sangat besar.

Baca Juga: Ketika Rudal Iran Tidak Bisa Lagi Diremehkan Israel dan Amerika Serikat

Tentu saja, tidak semua solidaritas bersifat teologis. Banyak warga Iran yang  tidak sepenuhnya pro pada Republik Islam namun tetap menolak serangan asing—bukan karena loyalitas kepada negara, tetapi karena nasionalisme, ketakutan, kesedihan, dan logika kenegaraan.

Dalam masa perang, terutama di bawah serangan asing yang tidak sah, ia dapat menghidupkan kembali citra lama: bukan sebagai negara otoriter yang tidak kompeten, melainkan penjaga perlawanan yang terdesak.

Ini tidak berarti teologi Republik Islam diterima secara universal. Laporan menunjukkan bahwa kepemimpinan Iran ke depan menghadapi basis pendukung yang mulai melemah dan pertanyaan serius tentang legitimasi jangka panjang.

Banyak warga Iran telah lama berhenti mempercayai narasi sakral negara. Namun, teologi politik tidak membutuhkan kepercayaan universal untuk berfungsi.

Ia hanya membutuhkan cukup banyak penganut, institusi, ritual, rasa takut, dan perang untuk mengubah penderitaan menjadi kohesi.

Inilah yang membuat perang saat ini berbahaya secara moral dan politik. Jika Amerika Serikat dan Israel membayangkan bahwa kekuatan besar akan dengan mudah menghilangkan makna dari Republik Islam, mereka mungkin keliru memahami jenis tatanan politik-teologis yang mereka hadapi.

Retorika Presiden AS Donald Trump juga tidak membantu. Tuntutannya agar Iran “menyerah tanpa syarat”, yang mendorong perang dari tujuan strategis terbatas menuju penghinaan dan kekalahan total, tidak hanya meningkatkan eskalasi; tetapi juga memberi Republik Islam musuh eksternal yang sangat cocok dengan narasi yang sudah dikenalnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X