KLIK SAJA - Zaman digital telah membawa banyak kebiasaan baru—bahkan cara kita “bersama” pun berubah.
Namun, di tengah kesibukan, individualisme, dan notifikasi yang tak henti‑henti, muncul pertanyaan: kapan terakhir kita merasakan bersama secara nyata?
Meski demikian, jiwa lama bangsa kita: gotong royong, yaitu saling bantu bersama tak luntur.
Malah, di era komunitas daring, nilai ini tengah mengalami “transformasi”.
Gotong‑Royong: Warisan yang Tak Terbantahkan
Menurut kajian, gotong royong bukan sekadar aktivitas fisik bersama, melainkan sistem nilai yang mengatur kerja sama antar‑warga, solidaritas, dan tanggung jawab bersama.
Baca Juga: Ketika Alam Berbicara, Suara Sungai yang Tak Lagi Tenang
Misalnya, istilah “gotong” berarti mengangkat bersama, “royong” berarti bersama‐sama.
Dari tradisi‑tradisi lama seperti di masyarakat Toraja, Mandailing, atau Jawa seperti tradisi rewang di Jawa yang disebut masih berjalan di desa‑desa kita bisa melihat akar kuat nilai ini.
Tantangan Zaman Modern
Tetapi, hidup makin cepat. Waktu makin sempit. Individu makin sibuk.
Dalam banyak tulisan, disebut bahwa modernisasi & individualisme menjadi tantangan bagi kelangsungan gotong royong.
Lingkungan perkotaan, mobilitas tinggi, komunitas yang terbagi‑bagi membuat kolaborasi fisik semakin jarang.