opini

Komunitas Daring Bertemu Aksi Nyata, Bagaimana Gotong‑Royong Zaman Now Membentuk Komunitas Aktif di Era Digital?

Jumat, 7 November 2025 | 05:06 WIB
Sekelompok orang dari berbagai latar belakang (remaja, dewasa, lansia) sedang berkoordinasi lewat laptop, tablet, dan smartphone. Layar menampilkan grup chat atau aplikasi komunitas. Di latar belakang terlihat mereka sedang menyiapkan peralatan untuk kerja bakti atau penggalangan donasi. (Dari layar ke lapangan: komunitas daring mempersiapkan aksi nyata gotong royong/ istimewa)

KLIK SAJA - Zaman digital telah membawa banyak kebiasaan baru—bahkan cara kita “bersama” pun berubah.

Namun, di tengah kesibukan, individualisme, dan notifikasi yang tak henti‑henti, muncul pertanyaan: kapan terakhir kita merasakan bersama secara nyata?

Meski demikian, jiwa lama bangsa kita: gotong royong, yaitu saling bantu bersama tak luntur.

Malah, di era komunitas daring, nilai ini tengah mengalami “transformasi”.

Gotong‑Royong: Warisan yang Tak Terbantahkan

Menurut kajian, gotong royong bukan sekadar aktivitas fisik bersama, melainkan sistem nilai yang mengatur kerja sama antar‑warga, solidaritas, dan tanggung jawab bersama.

Baca Juga: Ketika Alam Berbicara, Suara Sungai yang Tak Lagi Tenang

Misalnya, istilah “gotong” berarti mengangkat bersama, “royong” berarti bersama‐sama.

Dari tradisi‑tradisi lama seperti di masyarakat Toraja, Mandailing, atau Jawa seperti tradisi rewang di Jawa yang disebut masih berjalan di desa‑desa kita bisa melihat akar kuat nilai ini.

Tantangan Zaman Modern

Tetapi, hidup makin cepat. Waktu makin sempit. Individu makin sibuk.

Baca Juga: Tahun Segera Berganti, Tapi Apakah Kita Sudah Lebih Baik? Refleksi Tentang Harapan dan Kebiasaan yang Tak Kunjung Berubah

Dalam banyak tulisan, disebut bahwa modernisasi & individualisme menjadi tantangan bagi kelangsungan gotong royong.

Lingkungan perkotaan, mobilitas tinggi, komunitas yang terbagi‑bagi membuat kolaborasi fisik semakin jarang.

Halaman:

Tags

Terkini