KLIK SAJA - Pernahkah kau berhenti sejenak di tepi sungai dan benar-benar mendengarkan?
Dulu, suara airnya lembut, seperti doa yang menenangkan. Kini, yang terdengar hanya riuh arus keruh bercampur plastik dan buih sabun.
Alam memang tak pandai berteriak, tapi ia selalu tahu cara berbicara.
Sungai yang dulu jadi tempat bermain anak-anak, kini jadi penampung sisa gaya hidup manusia modern.
Kita mandi dengan sabun yang mengalir ke parit, minum dari botol plastik yang akhirnya kembali ke sungai, dan menyalahkan hujan ketika airnya meluap.
Ironisnya, yang salah bukan langit, tapi kebiasaan kita sendiri.
Sungai Tak Lagi Sekadar Air yang Mengalir
Sungai adalah cermin: memantulkan wajah manusia yang melupakannya.
Ketika arusnya jernih, itu pertanda keseimbangan. Tapi ketika warnanya berubah dan baunya menusuk, itu pertanda ada yang salah bukan pada alam, tapi pada cara kita memperlakukannya.
Pencemaran air bukan lagi isu lingkungan semata; ia sudah menjadi refleksi moral.
Baca Juga: 4 Kali Gubernur Bumi Lancang Kuning Tersandung Korupsi: Cerminan Rasuah Mengakar Kuat di Riau
Setiap limbah yang kita buang adalah bentuk ketidakpedulian yang terakumulasi. Dan kini, alam sedang menagih utangnya.
Kita Sibuk Mendengar Dunia, Tapi Tak Lagi Mendengar Alam