opini

Kelaparan di Gaza Bukanlah Krisis Kemanusiaan, Tetapi Strategi Perang Israel

Selasa, 15 Juli 2025 | 21:12 WIB
Bocah bocah Gaza yang kelaparan (CNN)

Penolakan untuk menyebut tindakan ini sebagaimana mestinya — kejahatan perang yang menjadi bagian dari genosida — telah memberi Israel ruang untuk melanjutkan kebijakan ini tanpa hukuman.

Kemudian perihal yang lebih mengganggu lagi adalah bagaimana makanan milik warga Gaza kini menjadi alat tawar-menawar.

Akses terhadap kebutuhan pokok seperti tepung, susu formula bayi, dan air minum dalam kemasan kini dihubungkan dengan negosiasi politik dan militer.

Ini menunjukkan logika kekuasaan yang kelam. Tujuannya bukan stabilitas atau keamanan bersama — melainkan memaksakan kondisi politik melalui manipulasi penderitaan sipil yang terencana.

Dengan membuat Gaza sepenuhnya bergantung pada bantuan luar sambil secara sistematis menghancurkan kemampuan hidup lokal, Israel telah menciptakan jebakan yang melucuti seluruh kedaulatan politik dan ekonomi rakyat Palestina.

Mereka dijadikan populasi yang bisa dikelola, dikendalikan, dan diperdagangkan.

Setiap statistik dari Gaza harus dibaca dalam kerangka ini. Fakta bahwa 100 persen penduduknya kini mengalami ketidakamanan pangan bukan sekadar tragis; itu adalah indikator dari kemajuan strategi ini.

Ini bukan soal memberi makan orang yang kelaparan. Ini adalah tentang mematahkan semangat suatu bangsa dan memaksa mereka menerima realitas baru sesuai kehendak sang penjajah.

Walau demikian, ketahanan rakyat Gaza tetap hidup. Keteguhan mereka — di tengah pengepungan dan kelaparan — telah membuka tabir runtuhnya moral tatanan dunia internasional yang lebih memilih krisis yang “terkendali” daripada akuntabilitas politik.

Ini bukan kelaparan akibat kekeringan. Ini bukan kekacauan negara yang gagal. Ini adalah kejahatan yang sedang berlangsung — dilakukan dengan mata terbuka, di bawah perlindungan ketidakpedulian dunia.

Pada saat yang sama, aksi-aksi solidaritas terus bermunculan di seluruh dunia, dipimpin oleh orang-orang yang memiliki nurani dan menuntut pemerintah mereka untuk bertindak.

Sejarah akan mencatat apa yang terjadi di Gaza.

Sejarah juga akan mencatat siapa yang memilih untuk diam. Keadilan mungkin tertunda, tetapi akan datang — dan ia akan bertanya: siapa yang membiarkan kelaparan dijadikan alat untuk menghancurkan sebuah bangsa?

Halaman:

Tags

Terkini