Kelaparan di Gaza Bukanlah Krisis Kemanusiaan, Tetapi Strategi Perang Israel

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Selasa, 15 Juli 2025 | 21:12 WIB
Bocah bocah Gaza yang kelaparan (CNN)
Bocah bocah Gaza yang kelaparan (CNN)

KLIK SAJA - Bencana yang terjadi di Gaza tidaklah bisa dipahami semata-mata sebagai krisis kemanusiaan.

Apa yang kita saksikan bukan sekadar akibat tragis dari perang, melainkan penggunaan kelaparan secara sengaja sebagai alat kontrol politik dan demografis.

Prahara kelaparan di Gaza terjadi berulang-ulang bukan karena bencana alam, tetapi ulah kejahatan antar manusia.

Strategi ini, yang dirancang untuk menghancurkan tatanan masyarakat Palestina, merupakan bentuk genosida struktural.

Pemerintah dan militer Israel, dalam usahanya untuk mendominasi dan menghapus aspirasi nasional rakyat Palestina, telah melampaui taktik pengeboman dan penghancuran fisik.

Kini, metode yang digunakan jauh lebih halus dan berbahaya: mereka menyasar inti kelangsungan hidup rakyat Palestina — makanan, air, dan sarana untuk bertahan hidup.

Israel mencoba mematahkan semangat bangsa Palestina dengan cara membuat mereka tak mampu memberi makan diri sendiri, sehingga menjadi sangat bergantung pada bantuan kemanusiaan Internasional.

Menurut laporan lembaga-lembaga internasional independen, lebih dari 95 persen lahan pertanian Gaza telah dihancurkan atau tak lagi bisa digunakan.

Angka ini bukan hanya kerugian ekonomi; ini adalah penghancuran kedaulatan pangan secara disengaja — dan bersamanya, harapan atas kemerdekaan di masa depan.

Penghancuran ini berlangsung secara sistematis. Akses terhadap benih diblokir. Infrastruktur air dijadikan sasaran.

Nelayan dan petani — yang bahkan sebelum ini telah hidup dalam kondisi pengepungan ekstrem — terus-menerus diserang. Ini bukan tindakan acak.

Ini bagian dari rencana yang lebih luas untuk merekayasa ulang masa depan demografis dan ekonomi Gaza agar sesuai dengan tujuan strategis jangka panjang Israel: kontrol total dan penundukan politik.

Hingga yang membuat semuanya semakin mengkhawatirkan adalah keterlibatan pasif komunitas internasional.

Baik melalui sikap diam maupun pernyataan diplomatik yang samar dan menyebut situasi ini hanya sebagai “krisis kemanusiaan”, para aktor global turut menormalkan penggunaan kelaparan sebagai senjata perang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Al Jazeera, Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X