Ia juga memelopori berdirinya organisasi Kaoetamaan Istri yang memperjuangkan hak-hak perempuan dalam memperoleh pendidikan.
Usahanya sangat berpengaruh dalam membentuk kesadaran kolektif akan pentingnya pendidikan bagi perempuan di wilayah Jawa Barat.
- Maria Walanda Maramis (1872–1924)
Maria berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara. Ia mendirikan PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya) pada 8 Juli 1917, yang berfokus pada pendidikan ibu rumah tangga dan pemberdayaan perempuan.
Ia juga membuka Huishoud School, sebuah sekolah rumah tangga untuk perempuan agar mereka dapat lebih mandiri secara ekonomi dan sosial.
Sobat Klik Saja, keempat tokoh di atas adalah bukti bahwa sejarah perjuangan perempuan Indonesia jauh lebih luas dari narasi tunggal Kartini.
Sebenarnya masih banyak lagi tokoh-tokoh Wanita di jaman pergerakan yang patut kita narasikan Kembali.
Mereka menunjukkan bahwa emansipasi tidak hanya lahir dari pemikiran, tetapi juga dari aksi nyata yang mengubah kehidupan perempuan Indonesia kala itu.
Sudah saatnya kita membuka mata terhadap banyaknya srikandi lain dalam sejarah bangsa yang perjuangannya tak kalah hebat—bahkan lebih konkret dan berdampak langsung pada masyarakat.***