Tokoh Pergerakan Wanita Tidak Cuma Kartini, Berikut 4 Srikandi Intelektual Indonesia Zaman Kolonial

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Minggu, 20 April 2025 | 22:49 WIB
Para Srikandi Intelektual Indonesia di jaman kolonial (berbagai sumber)
Para Srikandi Intelektual Indonesia di jaman kolonial (berbagai sumber)

KLIK SAJA - Selama ini, nama Kartini begitu lekat dalam benak masyarakat Indonesia sebagai simbol emansipasi wanita. Ia kerap dihormati sebagai pelopor kesetaraan gender di Nusantara.

Namun jika kita menelusuri lebih dalam sejarah Indonesia zaman kolonial, akan kita temukan banyak tokoh wanita lain yang kiprahnya bahkan jauh lebih konkret dan berdampak nyata dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama di bidang pendidikan dan sosial.

Tanpa bermaksud merendahkan peran Kartini, perlu dicatat bahwa sebagian besar ketokohannya dibentuk oleh narasi kolonial dan kemudian diperkuat pada masa pemerintahan Soekarno.

Kartini memang menulis surat-surat yang menyuarakan keresahan atas nasib kaum perempuan, namun ia tidak sempat mewujudkan gagasan tersebut dalam bentuk institusi nyata selama hidupnya.

Sekolah Kartini baru didirikan setelah ia wafat, oleh pemerintah kolonial sebagai bagian dari politik etis.

Sebaliknya, beberapa tokoh perempuan sezaman dengan Kartini telah mengambil langkah nyata dalam perjuangan mereka.

Berikut adalah empat srikandi intelektual Indonesia zaman kolonial yang patut kita kenali kontribusi nyatanya:

  1. Rohana Kudus (1884–1972)

Rohana Kudus adalah wartawati pertama Indonesia. Pada 1911, ia mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia di Koto Gadang, Sumatera Barat, sebagai tempat belajar perempuan untuk meningkatkan keterampilan.

Ia aktif menulis di berbagai surat kabar perempuan, seperti Poetri Hindia, dan ketika media tersebut dibredel oleh pemerintah kolonial, ia mendirikan Sunting Melayu, salah satu surat kabar perempuan pertama di Indonesia.

Dalam kondisi keterbatasan akses pendidikan bagi perempuan, Rohana memberikan alternatif nyata agar kaum perempuan dapat belajar dan mandiri.

  1. Nyai Ahmad Dahlan (Siti Walidah)

Istri dari pendiri Muhammadiyah ini memainkan peran vital dalam membangun organisasi perempuan Aisyiyah, yang berdiri pada 1917.

Ia tak hanya membina pendidikan agama bagi perempuan, tetapi juga mendirikan Bustanul Athfal Aisyiyah, taman kanak-kanak pertama di Indonesia pada 1919.

Nyai Ahmad Dahlan juga menjadi perempuan pertama yang memimpin kongres besar yang dihadiri ribuan peserta.

  1. Dewi Sartika (1884–1947)

Dewi Sartika merupakan pelopor pendidikan perempuan di tanah Sunda. Ia mendirikan sekolah perempuan pertama di Bandung pada tahun 1904, bernama Sakola Istri.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X