KLIK SAJA - Pernyataan kontroversial kembali dilontarkan Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
Dalam sebuah podcast di kanal YouTube IDN Times, Fadli menyatakan bahwa pemerkosaan massal terhadap perempuan Tionghoa dalam tragedi Mei 1998 tidak memiliki bukti yang jelas.
Ia menyebut kejadian tersebut hanya sebagai “cerita” tanpa bukti sejarah. “Kalau ada tunjukkan, ada enggak di dalam buku sejarah itu? Enggak ada,” ujarnya.
Pernyataan ini memicu polemik publik yang masih banyak mempertanyakan kebenaran kasus ini.
Pasalnya, tragedi kemanusiaan tersebut bukan hanya sekadar rumor, tetapi telah diinvestigasi oleh berbagai pihak termasuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), Tim Relawan untuk Kemanusiaan, serta disoroti secara global sebagai pelanggaran HAM berat.
Menurut laporan Tim Relawan Mei 1998, sedikitnya 150 perempuan etnis Tionghoa menjadi korban pemerkosaan.
Banyak korban mengalami trauma berat, luka fisik, hingga meninggal dunia akibat kekerasan seksual yang brutal.
Relawan menemukan korban dalam kondisi mengenaskan: pingsan, bersimbah darah, bahkan tidak mampu bicara karena syok.
Dalam suasana chaos pasca-kerusuhan, aktivis dari Tim Relawan untuk Kekerasan terhadap Perempuan (TKRP) bahu-membahu memberikan perlindungan.
Mereka mendirikan rumah aman, membentuk tim investigasi, dokumentasi, hingga pemindahan korban, karena negara tidak memberikan respons cepat atau posko bantuan saat itu.
Para aktivis juga membawa laporan ini langsung ke Presiden B.J. Habibie.
Dihadapkan kepada perwakilan militer seperti Sintong Panjaitan dan Wiranto, mereka sempat dicurigai menyebarkan kebohongan.
Namun, Presiden Habibie mengakui tragedi tersebut secara terbuka dan meminta maaf atas nama negara.
Ia pun memerintahkan pembentukan TGPF dan Komnas Perempuan.