internasional

Diskusi ISI Ungkap Dampak Kebijakan Trump Jilid Kedua terhadap Stabilitas Keamanan Indo-Pasifik

Sabtu, 31 Januari 2026 | 05:24 WIB
Diskusi ISI Ungkap Dampak Kebijakan Trump Jilid Kedua terhadap Stabilitas Keamanan Indo-Pasifik (Indo-Pacific Strategic Intelligence (ISI) gelar diskusi daring bertajuk “Spheres of Influence and Strategic Retrenchment: How Trump Reshapes Great Power Competition and Its Implications for the Indo-Pacific”. (Dok. ISI))

Munculnya kerja sama minilateral dinilai berpotensi menggeser peran kepemimpinan ASEAN di kawasan.

Ia mengusulkan pendekatan armed neutrality sebagai strategi realistis bagi Indonesia.

Konsep ini menekankan penguatan pertahanan nasional tanpa terikat aliansi formal.

Indonesia juga dapat menerapkan functional decoupling dengan memisahkan kerja sama ekonomi dan pertahanan.

Baca Juga: 4 Alasan Mengapa Trump Serang Venezuela dan Tangkap Maduro, Salah Satunya Incar Cadangan Minyak Terbesar di Dunia

Kerja sama ekonomi bisa dijalin dengan China, sementara kolaborasi pertahanan tetap terbuka dengan AS.

Pendekatan ini dinilai paling aman untuk meminimalkan risiko geopolitik jangka panjang.

Konsep Indo-Pasifik sebagai Kerangka Kebijakan Berkelanjutan

Pandangan lain disampaikan Dr. Jeanne Francois dari President University yang menilai konsep Indo-Pasifik kini telah menjadi kerangka strategis yang relatif stabil.

Melalui narasi Free and Open Indo-Pacific, Amerika Serikat berupaya menjaga keseimbangan kekuatan tanpa memicu konflik terbuka.

Norma internasional dan kebebasan navigasi tetap menjadi pilar utama kebijakan kawasan.

Namun, gaya kepemimpinan Trump yang personal dan berorientasi bisnis dinilai rawan disalahartikan.

Baca Juga: Alert! Trump Orders Special Operations to Plan Greenland Invasion

Bagi Indonesia, penguatan diplomasi jalur kedua menjadi semakin penting.

Kolaborasi akademik dan keamanan non-tradisional seperti siber dan perlindungan infrastruktur perlu diperluas.

Halaman:

Tags

Terkini