Munculnya kerja sama minilateral dinilai berpotensi menggeser peran kepemimpinan ASEAN di kawasan.
Ia mengusulkan pendekatan armed neutrality sebagai strategi realistis bagi Indonesia.
Konsep ini menekankan penguatan pertahanan nasional tanpa terikat aliansi formal.
Indonesia juga dapat menerapkan functional decoupling dengan memisahkan kerja sama ekonomi dan pertahanan.
Kerja sama ekonomi bisa dijalin dengan China, sementara kolaborasi pertahanan tetap terbuka dengan AS.
Pendekatan ini dinilai paling aman untuk meminimalkan risiko geopolitik jangka panjang.
Konsep Indo-Pasifik sebagai Kerangka Kebijakan Berkelanjutan
Pandangan lain disampaikan Dr. Jeanne Francois dari President University yang menilai konsep Indo-Pasifik kini telah menjadi kerangka strategis yang relatif stabil.
Melalui narasi Free and Open Indo-Pacific, Amerika Serikat berupaya menjaga keseimbangan kekuatan tanpa memicu konflik terbuka.
Norma internasional dan kebebasan navigasi tetap menjadi pilar utama kebijakan kawasan.
Namun, gaya kepemimpinan Trump yang personal dan berorientasi bisnis dinilai rawan disalahartikan.
Baca Juga: Alert! Trump Orders Special Operations to Plan Greenland Invasion
Bagi Indonesia, penguatan diplomasi jalur kedua menjadi semakin penting.
Kolaborasi akademik dan keamanan non-tradisional seperti siber dan perlindungan infrastruktur perlu diperluas.
Artikel Terkait
Miris! Ribuan Warga Gaza Krisis Penanganan Medis, Walau Gencatan Senjata Tengah Berlangsung
Ahmad Al-Sharaa Resmi Berkoalisi dengan Donald Trump Perangi ISIS: Ketika Mantan Jihadis Jadi Tamu Kehormatan Gedung Putih
Sugoi! Hebat! PM Jepang Sanae Takaichi Rela Potong Gaji Hingga 30 Persen demi Penghematan Nasional
96 Korban, 7 Peledak, dan Siswa Masih Trauma, Begini Perkembangan Terbaru Kasus SMAN 72!
Bersejarah! Paus Leo XIV Kunjungi Masjid Biru di Istanbul, Simbol Perdamaian Antar Umat Beragama