KLIK SAJA - Dari Negeri Matahari Terbit, muncul gebrakan progresif yang menarik perhatian dunia.
Belum genap sebulan menjabat, Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi langsung membuat langkah berani — ia berencana memotong gaji seluruh anggota kabinet, termasuk dirinya sendiri.
Langkah ini bukan sekadar simbol, tetapi bagian dari upaya serius Takaichi untuk melakukan reformasi administrasi dan efisiensi anggaran negara.
Seperti dilaporkan The Japan Times (8 November 2025), rencana tersebut akan segera dibahas dalam sidang luar biasa parlemen Jepang yang tengah berlangsung.
“Takaichi tampaknya ingin menunjukkan komitmennya terhadap reformasi dengan menepati seruannya selama ini untuk memangkas gaji para menteri kabinet,” tulis The Japan Times.
Kebijakan ini juga mendapat dukungan kuat dari Partai Inovasi Jepang (Nippon Ishin no Kai), mitra koalisi baru Partai Demokrat Liberal.
Partai tersebut bahkan menyerukan agar hak-hak istimewa anggota parlemen turut dikurangi.
Baca Juga: Mengenal Green Pheasant, Burung Nasional Jepang yang Sarat Makna dan Legenda
Sebagai gambaran, anggota parlemen Jepang saat ini menerima gaji sekitar 1,29 juta yen per bulan (sekitar Rp140 juta). Perdana Menteri memperoleh 1,15 juta yen (Rp125 juta), sedangkan para menteri kabinet menerima sekitar 489 ribu yen (Rp53 juta).
Namun, di tengah langkah penghematan nasional, pemerintah di bawah Takaichi sudah lebih dulu memberi contoh.
PM Takaichi kini mengembalikan 30% dari gaji tambahannya, sementara para menteri mengembalikan 20%.
Menurut Kepala Sekretaris Kabinet Minoru Kihara, kebijakan ini secara efektif memangkas tunjangan mereka menjadi sekitar 390 ribu yen (Rp42,3 juta) untuk perdana menteri dan 110 ribu yen (Rp11,9 juta) untuk para menteri.
Langkah ini menuai pujian luas.
“Ini adalah inisiatif yang luar biasa,” ujar Fumitake Fujita, salah satu pemimpin Partai Inovasi Jepang, memuji ketegasan Takaichi dalam membawa semangat reformasi ke tubuh pemerintah.