Aksi Demonstrasi ‘No Kings’ Banjiri Berbagai Kota di AS, Tuntut Trump Mundur dan Akhiri Perang Iran

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Minggu, 29 Maret 2026 | 11:16 WIB
Aksi Demonstrasi No Kings merebak di berbagai kota di AS (Al Jazeera)
Aksi Demonstrasi No Kings merebak di berbagai kota di AS (Al Jazeera)

KLIK SAJA - Para demonstran turun ke jalan di berbagai kota di seluruh Amerika Serikat dalam aksi “No Kings” pertama sejak perang gabungan AS dan Israel melawan Iran dimulai satu bulan lalu.

Aksi pawai dan unjuk rasa pada hari Sabtu ini menandai gelombang ketiga protes nasional “No Kings” sejak Presiden Donald Trump kembali menjabat untuk masa jabatan keduanya.

Aksi ini bertujuan agar Donald Trump turun dari jabatannya karena dinilai bertindak terlalu jauh dalam kepemimpinannya.

Selain itu, aksi ini menuntut agar AS segera mengakhiri peran Iran dan mengkritik kebijakan imigran.

Menurut situs “No Kings”, lebih dari 3.300 aksi direncanakan di seluruh 50 negara bagian, dengan kerumunan besar diperkirakan hadir di kota-kota seperti New York, Los Angeles, dan Washington, DC.

Aksi serupa juga berlangsung secara internasional di kota-kota seperti Roma, Paris, dan Berlin.

Namun, para penyelenggara menargetkan untuk menggerakkan pemilih di luar kota-kota metropolitan besar di AS, terutama di wilayah yang cenderung konservatif.

Baca Juga: Mengenal Profil Abbas Araghchi Menteri Luar Negeri Iran yang Mampu Bungkam Keangkuhan AS - Israel

Mereka menyebutkan bahwa sekitar dua pertiga peserta diperkirakan akan mengikuti aksi di luar pusat kota besar.

Meski demikian, acara utama dijadwalkan berlangsung di kawasan Minneapolis–St Paul di Minnesota, yang dikenal sebagai Twin Cities.

Negara bagian di wilayah Midwest tersebut menjadi pusat perhatian terkait kebijakan keras imigrasi Trump pada bulan Desember, ketika ia meluncurkan Operasi Metro Surge.

Operasi tersebut melibatkan lebih dari 3.000 agen imigrasi federal yang dikerahkan ke kawasan Twin Cities, di mana mereka dituduh menggunakan kekuatan berlebihan dalam melakukan penggerebekan deportasi.

Pada bulan Januari, agen-agen tersebut menembak dan menewaskan dua warga negara AS, Alex Pretti dan Renee Nicole Good, yang memicu kemarahan nasional dan seruan untuk reformasi.

Puluhan gugatan hukum diajukan sebagai akibat dari operasi tersebut, yang akhirnya dihentikan pada bulan Februari.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Al Jazeera, Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X