internasional

Diskusi ISI Ungkap Dampak Kebijakan Trump Jilid Kedua terhadap Stabilitas Keamanan Indo-Pasifik

Sabtu, 31 Januari 2026 | 05:24 WIB
Diskusi ISI Ungkap Dampak Kebijakan Trump Jilid Kedua terhadap Stabilitas Keamanan Indo-Pasifik (Indo-Pacific Strategic Intelligence (ISI) gelar diskusi daring bertajuk “Spheres of Influence and Strategic Retrenchment: How Trump Reshapes Great Power Competition and Its Implications for the Indo-Pacific”. (Dok. ISI))

KLIK SAJA - Diskusi daring yang digelar Indo-Pacific Strategic Intelligence (ISI) menyoroti perubahan signifikan kebijakan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump pada periode keduanya.

Tahun pertama pemerintahan Trump ditandai oleh kecenderungan strategic retrenchment, yakni pengurangan keterlibatan langsung tanpa sepenuhnya meninggalkan kawasan strategis.

Pendekatan transaksional terhadap sekutu menjadi ciri utama, di mana kontribusi keamanan dan beban biaya menjadi faktor penentu relasi.

Meski demikian, AS tidak sepenuhnya menarik diri dari Indo-Pasifik yang masih dipandang sebagai pusat kepentingan global.

Baca Juga: Fakta Greenland dalam Pusaran Kepentingan AS dan China

Diskusi ini menekankan bahwa retrenchment lebih bersifat penyesuaian peran, bukan pelepasan pengaruh.

Perubahan ini memunculkan ketidakpastian baru dalam arsitektur keamanan kawasan.

Negara-negara Indo-Pasifik pun dipaksa beradaptasi dengan dinamika kebijakan AS yang lebih fluktuatif.

Indo-Pasifik Tetap Jadi Poros Strategis Amerika Serikat

Dosen Defence Studies King’s College London, Dr. Zeno Leoni, menegaskan bahwa Indo-Pasifik tetap menjadi kawasan kunci bagi kepentingan strategis Amerika Serikat.

Hal ini tercermin dari sekitar 60 persen kekuatan laut AS yang masih ditempatkan di kawasan tersebut.

Baca Juga: 5 Cara Uni Eropa dan NATO Hentikan Kegilaan Donald Trump Kuasai Greenland

Isu strategis seperti Laut China Selatan dan Taiwan tetap menjadi fokus utama kebijakan keamanan Washington.

Namun, gaya diplomasi Trump yang agresif dan sering tak terduga berpotensi melemahkan kepercayaan sekutu.

Halaman:

Tags

Terkini