Mengupas Sejarah Kawasan Manahan Solo: Dari Tempat Panahan Bangsawan Jawa Hingga Jadi Kompleks Olahraga Skala Internasional

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Minggu, 27 April 2025 | 11:23 WIB
Kawasan kompleks olahraga Manahan Solo saat ini (promedia)
Kawasan kompleks olahraga Manahan Solo saat ini (promedia)

KLIK SAJA - Bagi warga Solo, Manahan bukan hanya sekadar nama kelurahan atau tempat berolahraga.

Di balik kawasan ini, tersembunyi sejarah panjang yang berkaitan erat dengan perjalanan budaya dan perkembangan kota Solo sendiri.

Nama "Manahan" kerap disalahartikan berasal dari "memanah", padahal kenyataannya, kawasan ini punya akar sejarah yang lebih dalam.

Manahan dulunya adalah tempat penting yang berkaitan dengan Ki Ageng Pamanahan, tokoh besar dari awal berdirinya Mataram Islam.

Ia adalah orang yang membuka hutan Mentaok—cikal bakal lahirnya Kesultanan Mataram.

Di kawasan Manahan inilah, Ki Ageng Pamanahan pernah mendirikan pondok atau padepokan, yang kemudian berkembang menjadi Kampung Depok.

Sampai hari ini, Kampung Depok masih eksis di sebelah timur Manahan, kini dikenal sebagai kawasan pasar hewan.

Seiring berjalannya waktu, Manahan berubah fungsi menjadi tempat latihan memanah bagi kalangan bangsawan Mangkunegaran.

Kerabat Mangkunegaran dikenal gemar berburu di hutan Kethu, Wonogiri. Bahkan, sejarah mencatat Mangkunegara V wafat dalam sebuah peristiwa tragis saat berburu.

Kebutuhan latihan memanah yang serius membuat kawasan Manahan menjadi penting sebagai arena latihan bangsawan.

Saat modernisasi mulai masuk ke Solo, tekanan dari pejabat kolonial memaksa Mangkunegaran membangun stasiun Solo Balapan.

Lapangan balap kuda yang sebelumnya di Balapan pun dipindahkan ke Manahan. Maka, kawasan ini pun berubah menjadi arena pacuan kuda yang luas, dengan tribun untuk penonton.

Transformasi kawasan ini tidak terlepas dari tangan dingin Thomas Karsten, arsitek ternama sahabat Mangkunegara yang merancang Manahan dengan sentuhan modern namun tetap menjaga nilai-nilai lokal.

Karsten membuat desain lapangan oval dengan melingkari area tersebut dengan pohon cemara yang berfungsi sebagai paru-paru kota.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X