KLIK SAJA - Di kaki Gunung Gamalama, Pulau Pulau Ternate, terbentang sebuah danau vulkanik yang memikat sekaligus menyimpan aura misteri: Danau Tolire.
Airnya berwarna hijau toska, dikelilingi tebing-tebing curam, sementara suasana di sekitarnya terasa tenang dan sunyi.
Keindahan alam itulah yang menjadikan Danau Tolire sebagai salah satu destinasi paling ikonik di Ternate.
Namun pesona Danau Tolire bukan hanya soal panorama. Tempat ini juga menyimpan jejak geologi dari letusan gunung api ratusan tahun lalu, berpadu dengan legenda turun-temurun yang masih hidup di tengah masyarakat hingga kini.
Secara geografis, Danau Tolire terbentuk akibat aktivitas vulkanik Gunung Gamalama. Letusan besar pada tahun 1775 memicu erupsi freato-magmatik yang menciptakan kawah raksasa.
Konon, letusan tersebut menyebabkan sebuah perkampungan di sekitarnya ambles ke dalam kawah.
Seiring waktu, cekungan itu terisi air dan berubah menjadi danau yang kini dikenal sebagai Danau Tolire.
Kawasan ini sebenarnya terdiri dari dua danau yang letaknya berdekatan. Danau pertama adalah Tolire Besar atau Tolire Jaha, dengan luas sekitar lima hektare dan kedalaman lebih dari 50 meter.
Sekitar 200 meter dari sana terdapat Tolire Kecil atau Tolire Ici yang ukurannya lebih sempit.
Tebing-tebing di sekeliling danau menjulang setinggi 60 hingga 80 meter, menciptakan panorama dramatis yang memanjakan mata.
Dari beberapa titik pandang, pengunjung dapat menikmati hamparan air tenang berlatar hutan tropis yang lebat.
Lingkungan di sekitar danau juga dipenuhi vegetasi khas Maluku, seperti pohon kenari, cengkeh, dan pala.
Sesekali, burung-burung endemik tampak melintas di atas kawasan ini. Menariknya, hampir tidak ada ikan yang hidup di Danau Tolire. Kandungan mineral tertentu di dalam air dipercaya membuat danau ini tidak cocok bagi sebagian besar biota air.
Mitos Buaya Putih yang Melegenda