KLIK SAJA - Suku Huaulu di Pulau Seram memiliki ciri khas yang mencolok, terutama pada laki-laki dewasa.
Mereka mengenakan ikat kepala dari kain merah yang disebut kain berang. Kain ini dililitkan hingga menutup kepala, menjadi penanda yang mudah dikenali sekaligus sarat makna.
Bagi masyarakat Huaulu, kain berang bukan sekadar penutup kepala. Ia adalah simbol kedewasaan.
Seorang anak laki-laki biasanya mulai mengenakannya saat memasuki usia remaja, sekitar 15–17 tahun, sebagai tanda bahwa ia telah akil baligh dan diakui sebagai bagian dari kelompok laki-laki dewasa. Sejak saat itu, kain berang akan terus dikenakan sepanjang hidupnya.
Lebih dari itu, kain berang juga menjadi lambang kebanggaan. Dalam sistem kekerabatan patrilineal yang dianut Suku Huaulu, laki-laki memegang peran penting sebagai pemimpin keluarga dan garis keturunan.
Warna merah pada kain berang diyakini melambangkan keberanian—sebuah nilai yang diharapkan melekat pada setiap lelaki Huaulu. Dahulu, ikat kepala ini menjadi bagian wajib saat para pria berangkat berperang.
Baca Juga: Mewahnya Kain Tenun Sutra Lipa Saqbe Khas Suku Mandar
Kini, ketika peperangan tak lagi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, kain berang tetap hadir dalam upacara adat dan tarian tradisional seperti cakalele.
Pada masa lalu, suku Huaulu memiliki citra sebagai suku yang punya tradisi mengayau kepala musuh dan kanibalisme.
Namun, kini suku Huaulu dikenal sebagai komunitas cinta damai di Pulau Seram.
Sekilas, ikat kepala Huaulu tampak serupa dengan yang dikenakan oleh Suku Naulu, yang tinggal di wilayah Seram Selatan.
Kedua suku ini memang memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dan sama-sama menggunakan kain berang.
Perbedaannya terletak pada cara pemakaian. Pada Suku Huaulu, kain berang dibentuk bulat mengikuti kontur kepala.
Sementara itu, pada Suku Naulu, kain tersebut dibentuk sedemikian rupa hingga menyerupai dua “telinga” runcing di bagian atas. Meski berbeda bentuk, makna dan fungsi kain berang tetap serupa bagi kedua suku.