Konsep ini terbukti visioner karena hingga kini Manahan tetap menjadi ruang terbuka hijau yang menyegarkan mata dan paru-paru Solo.
Kini, lapangan Manahan dibatasi oleh empat jalan besar: Jl. Adi Sucipto, Jl. Menteri Supomo, Jl. MT Haryana, dan Jl. KS Tubun.
Kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat olahraga, tetapi juga sebagai daerah resapan air, mengingat Solo rentan terhadap banjir.
Lebih dari itu, Manahan adalah pusat interaksi sosial, tempat warga bercengkerama di tengah rimbunnya pepohonan.
Titik puncak perubahan kawasan ini terjadi saat Stadion Manahan diresmikan pada 21 Februari 1998 oleh Presiden Soeharto.
Stadion ini menjadi salah satu ikon olahraga nasional, bahkan internasional. Dengan lokasinya yang strategis—dekat bandara, stasiun, terminal, dan kantor polisi—Stadion Manahan dinilai sangat ideal dan aman untuk menggelar event olahraga bertaraf internasional.
Saat ini, Stadion Manahan tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pertandingan sepak bola nasional, tetapi juga event internasional seperti Piala Dunia U-20 dan turnamen Asia para Games.
Identitas kawasan Manahan sebagai ruang olahraga dan ruang sosial warga Solo tetap bertahan, membuktikan bahwa warisan sejarah yang dikelola dengan baik mampu terus memberi manfaat lintas generasi.
Dari tempat memanah para bangsawan hingga menjadi kebanggaan Solo di mata dunia, Manahan adalah saksi perjalanan panjang yang terus hidup hingga hari ini.***