KLIK SAJA - Pulau kecil di utara Biak itu tampak tenang dari kejauhan. Hamparan pasir putihnya memantulkan cahaya matahari Pasifik, ombaknya berdebur pelan di tepian pantai, dan deretan pohon kelapa berdiri seolah menjaga pulau dari zaman yang telah lama berlalu.
Namun di balik keindahannya, Mios Bepondi menyimpan kisah yang membuat siapa pun merinding sekaligus penasaran.
Masyarakat Biak mengenal pulau ini sebagai “Pulau Para Leluhur” atau pulau roh-roh. Julukan itu bukan tanpa alasan.
Di berbagai sudut pulau, warga kerap menemukan tumpukan tulang belulang manusia yang dipercaya berasal dari masa lampau.
Hingga kini, kisah tentang tulang-tulang tersebut masih hidup dalam ingatan masyarakat setempat dan menjadi bagian dari identitas Mios Bepondi yang penuh misteri.
Dalam kepercayaan nenek moyang suku Biak, Mios Bepondi dipercaya sebagai pintu masuk menuju dunia orang mati atau sup aibu.
Pulau ini dianggap sakral, sebuah tempat yang menghubungkan dunia manusia dengan alam arwah leluhur.
Cerita-cerita turun-temurun itu membuat Mios Bepondi bukan sekadar pulau biasa, melainkan ruang spiritual yang diselimuti aura mistis dan penghormatan terhadap leluhur.
Secara geografis, Pulau Bepondi atau Befondi merupakan salah satu pulau terluar Indonesia yang berada di Samudra Pasifik dan berbatasan langsung dengan negara Palau.
Pulau ini termasuk wilayah Kabupaten Supiori, Papua, dan terletak di sebelah utara Pulau Biak.
Pada 2 Maret 2017, Presiden Joko Widodo menetapkan Pulau Bepondi sebagai salah satu dari 111 pulau kecil terluar Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2017 tentang Penetapan Pulau-Pulau Kecil Terluar.
Mios Bepondi juga dikenal dengan beberapa nama lain seperti Mios Korwar, Mios Pondi, atau Aifondi.
Nama-nama itu menjadi jejak panjang perjalanan sejarah dan budaya masyarakat pesisir Papua yang telah menghuni kawasan tersebut sejak ratusan tahun lalu.
Bahkan dokumentasi mengenai pulau ini sudah tercatat sejak ekspedisi awal abad ke-20, tepatnya pada tahun 1903.