opini

Ketika Alam Berbicara, Suara Sungai yang Tak Lagi Tenang

Kamis, 6 November 2025 | 04:41 WIB
Ketika Alam Berbicara, Suara Sungai yang Tak Lagi Tenang (Ilustrasi gambar / pixabay)

Di era yang sibuk berbicara soal tren, target, dan notifikasi, suara alam sering kalah bising.

Kita mendengar suara mesin lebih sering daripada suara air. Kita mengukur kemajuan dari kecepatan, bukan keberlanjutan.

Alam tidak marah tapi ia mengingat.
Dan ketika ia menegur, ia tidak melakukannya dengan kata-kata.

Ia melakukannya lewat banjir, longsor, udara panas, atau sungai yang perlahan mati. Semua itu bukan kutukan, melainkan pesan yang tak terbaca oleh manusia yang lupa mendengar.

Baca Juga: Empat Alasan Mengapa Menkeu Purbaya Disebut ‘Menteri Koboi’

Menjadi Bagian dari Solusi, Bukan Sekadar Penonton

Menyelamatkan alam bukan tugas “orang lain”, itu tugas kita. Setiap kali kita menolak kantong plastik, menutup keran lebih cepat, atau sekadar membuang sampah pada tempatnya.

Kecil, tapi bermakna. Karena alam tidak butuh pahlawan besar; ia butuh manusia yang sadar bahwa keseimbangan adalah bentuk cinta yang paling jujur.

Sungai yang Tenang Adalah Doa

Suatu hari nanti, mungkin sungai akan kembali bernyanyi.

Airnya jernih, ikannya hidup, dan anak-anak tertawa di tepinya.

Baca Juga: Rencana Pemutihan Tunggakan Iuran BPJS Kesehatan: Kabar Baik Bagi Masyarakat Kurang Mampu

Tapi itu hanya bisa terjadi kalau kita berhenti memperlakukan alam sebagai objek dan mulai memandangnya sebagai sahabat yang setia mengalirkan kehidupan.

Ketika alam berbicara, jangan buru-buru membantah. Dengarkan.

Karena di antara riuh arus sungai yang tak lagi tenang, ada pesan lembut: bahwa keseimbangan bukan pilihan, tapi kebutuhan.***

Halaman:

Tags

Terkini