opini

Apakah Tepuk Sakinah ala Kemenag Bisa Menekan Angka Perceraian? Antara Makna Simbolik dan Realita

Senin, 6 Oktober 2025 | 09:53 WIB
ilustrasi Tepuk Sakinah yang Viral (instagram Kemenag)

Namun, para pengamat mengingatkan agar strategi penyampaian dan muatannya tetap relevan dengan realitas yang dihadapi calon pengantin masa kini.

Pilar-pilar keluarga sakinah perlu dikaitkan dengan masalah konkret, seperti tingginya angka perceraian akibat persoalan ekonomi.

Gerakan seperti ini bisa menjadi pintu masuk kolaboratif lintas sektor untuk mengatasi isu seperti pengangguran dan ketimpangan finansial dalam rumah tangga.

Data dan Evaluasi: Tantangan Nyata Keluarga Indonesia

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), faktor ekonomi menempati posisi kedua tertinggi penyebab perceraian di Indonesia sejak 2021 hingga 2024.

Dalam tiga tahun terakhir, jumlah kasus perceraian akibat persoalan ekonomi selalu di atas 100.000 kasus per tahun, hanya kalah dari penyebab utama yakni perselisihan dan pertengkaran terus-menerus.

Karena itu, upaya menekan angka perceraian melalui pendekatan seni dan budaya seperti “Tepuk Sakinah” perlu dievaluasi secara berkala.

Setiap evaluasi harus memetakan tren penyebab perceraian terbaru, agar Kemenag dapat menyusun konten pembinaan yang lebih relevan dan solutif bagi calon pasangan suami istri.

“Tepuk Sakinah” mungkin tampak sederhana — hanya lagu dan tepukan tangan — namun di baliknya terdapat pesan penting tentang cinta, musyawarah, dan tanggung jawab dalam keluarga.

Maka dengan pendekatan yang tepat dan pemahaman yang mendalam, gerakan kecil ini bisa menjadi langkah besar untuk membangun keluarga Indonesia yang harmonis dan berdaya.***

Halaman:

Tags

Terkini