KLIK SAJA - Penolakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terhadap pembentukan negara Palestina pasca-Perang Gaza memicu respons global yang sudah dapat diprediksi sebelumnya.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut hal tersebut sebagai alasan yang tak dapat diterima.
Sementara, Presiden Joe Biden menegaskan kembali dukungannya terhadap "solusi dua negara", dan Uni Eropa mengancam "konsekuensi" jika pemerintah Netanyahu tidak mengubah arah politiknya.
Namun, dengan melihat fakta sekarang dimana kamp Jabalia yang terdapat perwakilan PBB UNRWA pun digempur habis-habisan, lalu perbatasan Rafah pun ditutup rapat-rapat dari bantuan internasional.
Pertanyaannya bukanlah apakah Netanyahu salah karena menolak solusi dua negara di masa mendatang.
Justru apakah dia salah karena mengatakan secara terbuka apa yang dipikirkan banyak orang dalam posisinya secara pribadi.
Yang pasti, Netanyahu sebenarnya seorang Yahudi ekstrem yang bisa kompromis, namun saat ini ia berada di posisi sulit, dimana publik Israel harapkan secuil tanah Gaza untuk segera dikuasai, namun di sisi lain ia pun dalam tekanan internasional.
Baca Juga: MER-C Berangkatkan Tim Relawan Medis EMT ke-6 Ke Jalur Gaza, Walau Israel Masih Menggempur Palestina
Namun dengan kemarahan rakyat Israel atas kegagalan intelijen atas agresi Hamas pada tanggal 7 Oktober.
Citra Netanyahu menjadi lemah di dalam negeri dan berusaha untuk menghabisi Gaza, dalam posisi ini ia tidak mengkhawatirkan tentang konsekuensinya di luar negeri.
Para rabi Yahudi kelompok kanan pun mulai mempertanyakan kepemimpinan Netanyahu, hingga akhirnya menekannya untuk segera menguasai Gaza dan Lebanon.
Tekanan seperti ini memang hanya bisa diemban oleh Bibi, panggilan akrabnya.