Tak semua pemimpin Israel saat yang mampu berani melawan tekanan internasional seperti Bibi, walau sebenarnya ia penuh masalah korupsi di dalam negeri.
Ia sekarang berada di garda terdepan untuk segera menghabisi Gaza.
Walaupun namanya Benjamin, adik dari nabi Yusuf, kenyataannya dia ingin menjadi Daud bagi bangsanya, dimana dengan keras dan lantang mengatakan bahwa Gaza adalah bagi dari negara Israel.
Pernyataannya tentunya mendapat tentangan dari Internasional dan dunia Islam, namun ia tak bergeming.
Solusi Dua Negara
Suka tak suka, solusi dua negara adalah penyelesaian terbaik dalam masalah ini, walaupun hal ini tak memuaskan bagi Israel maupun bagi warga Palestina serta dunia Islam, namun tujuan utamanya adalah perdamaian di atas segalanya, di atas idealisme sektarian keagamaan.
Baca Juga: Kemlu RI : Indonesia Mengutuk Serangan Israel ke Iran, Karena Melanggar Hukum Internasional
Kita tak ingin korban kembali berjatuhan hanya demi memenuhi ayat-ayat suci agama.
Solusi dua negara didasarkan pada Israel dan Palestina baru yang “ hidup berdampingan secara damai .”
Namun, perdamaian sejati tidak hanya harus muncul dari meja perundingan tetapi juga harus merasuki hati rakyat.
Jika tidak, mengejar solusi dua negara adalah tindakan yang salah arah dan berpotensi berbahaya.
Dalam hal ini warga Israel terpecah belah dalam berbagai pendapat.
Sekitar 75 persen di kubu kiri mendukung kemajuan menuju solusi dua negara, dibandingkan dengan 45 persen di kubu tengah dan 21 persen di kubu kanan, menurut jajak pendapat pada tahun lalu.
Baca Juga: Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara Digempur Israel, Relawan Mer-C Dievakuasi ke Gaza Tengah
Namun, penentangan terhadap perdamaian jauh lebih mengakar di pihak Palestina.