All Eyes on Jabalia Camp: Pengungsi dan Relawan Medis di Gaza Utara Jadi Sasaran Tembak Militer Israel

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Minggu, 3 November 2024 | 14:16 WIB
Kamp Jabalia sehabis digempur Israel (Los Angeles Times)
Kamp Jabalia sehabis digempur Israel (Los Angeles Times)

KLIK SAJA - Israel kembali memperketat pengepungannya di Gaza utara meskipun ada peringatan dari PBB dan badan-badan bantuan lainnya bahwa ratusan ribu nyawa warga Palestina terancam.

Hingga akhirnya  muncul pertanyaan apakah tujuan akhir perang pemerintah Netanyahu adalah memang benar-benar ingin menguasai Jalur Gaza sepenuhnya, dan mengusir semua penduduk Palestina dari tanah airnya.

Dilansir dari The Guardian, Militer Israel IDF mengatakan pihaknya memburu militan Hamas tetapi kecurigaan berkembang bahwa Israel sedang menjalankan misi tersembunyi, yang dikenal sebagai “rencana jenderal”.

Rencana tersebut, yang dinamai berdasarkan perwira senior pensiunan yang membuatnya, dimaksudkan untuk mengosongkan Gaza utara dengan memberikan warga Palestina yang terjebak di sana kesempatan untuk mengungsi dan kemudian memperlakukan mereka yang bertahan sebagai pejuang, sehingga melakukan pengepungan total, dengan dalih menyerang para pejuang Hamas.

Baca Juga: Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara Digempur Israel, Relawan Mer-C Dievakuasi ke Gaza Tengah

Pemerintah bersikeras bahwa rencana tersebut belum sepenuhnya dilakukan,

Tetapi kenyataannya beberapa kelompok hak asasi manusia Israel dan Palestina, mengatakan bahwa rencana tersebut dilaksanakan setiap hari, dimana warga Palestina di Gaza utara tidak diberi kesempatan realistis untuk mengungsi.

Gaza Utara seperti dikepung dari berbagai sisi, sehingga memaksa penduduknya, relawan, hingga medis harus mengungsi ke tengah, begitu pula kamp pengungsian Jabalia.

Sementara yang tersisa dijebak, dianggap sebagai pejuang dan dibantai oleh pihak Militer IDF Israel.

Sebagai informasi Kamp Jabalia adalah tempat pengungsian korban perang terbesar di dunia, dan hingga kini baik pengungsi dan relawan medis menjadi sasaran tembak dari militer IDF Israel.

“Tidak mungkin bagi saya untuk meninggalkan rumah karena saya tidak ingin mati di sana. Ada banyak orang yang kehilangan nyawa di luar rumah, bahkan di selatan. Kematian ada di mana-mana,” ungkap Ramadan, seorang pemuda berusia 19 tahun di Beit Lahiya yang keluarganya telah mengungsi tujuh kali selama perang selama 13 bulan.

Baca Juga: MER-C Berangkatkan Tim Relawan Medis EMT ke-6 Ke Jalur Gaza, Walau Israel Masih Menggempur Palestina

“Terjadi banyak penembakan dan berbagai jenis pengeboman, tempat pertemuan dibom, tempat penampungan dibom, dan sekolah dibom, lokasi menjadi penuh sesak, sehingga bom kecil pun dapat membunuh dan melukai banyak orang.”

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: The Guardian

Tags

Rekomendasi

Terkini

X