Masjid baru digunakan untuk aktivitas ibadah harian, sementara masjid lama tetap dijaga keasliannya sebagai peninggalan sejarah yang sarat makna.
Kisah Keteguhan di Masa Kolonial
Masjid Asal juga menyimpan berbagai kisah yang diwariskan secara turun-temurun dari masa kolonial.
Salah satunya adalah cerita tentang upaya Belanda menyerang masjid ini dengan bom, namun bom tersebut tidak meledak.
Ada pula kisah percobaan peruntuhan masjid yang selalu gagal. Hingga kini, bekas tebasan pedang pada salah satu tiang masjid masih dapat dilihat sebagai saksi bisu peristiwa tersebut.
Cerita-cerita ini bukan hanya menjadi legenda, tetapi juga sumber inspirasi yang menggambarkan keteguhan dan kegigihan masyarakat Gayo Lues dalam mempertahankan keyakinan dan warisan leluhur mereka.
Telaga Nampak, Sumur Tua yang Sarat Makna
Selain nilai sejarahnya, Masjid Asal juga dikenal dengan keberadaan sumur tua di halamannya yang disebut Telaga Nampak.
Dahulu, sumur ini digunakan sebagai tempat berwudhu. Hingga kini, airnya masih dimanfaatkan oleh masyarakat dengan berbagai keyakinan, seperti untuk penyembuhan penyakit dan keperluan upacara adat, termasuk pesejuk atau tepung tawar.
Keberadaan Telaga Nampak semakin memperkuat posisi Masjid Asal sebagai tempat yang bukan hanya religius, tetapi juga kental dengan nilai adat dan kepercayaan lokal.
Warisan Sejarah Negeri Seribu Bukit
Menurut keterangan pengurus masjid, Masjid Asal masih digunakan untuk pelaksanaan salat Jumat dan salat tarawih 23 rakaat selama bulan Ramadan.
Selain itu, masjid ini juga kerap menjadi tempat salat sunah dan pelaksanaan nazar masyarakat, seperti bersedekah.
Untuk menjaga keutuhan dan keaslian bangunan, salat lima waktu tidak lagi dilaksanakan di masjid lama, melainkan di masjid baru yang berada dalam satu kompleks.
Dengan usia yang diyakini telah melampaui enam abad, Masjid Asal terus dirawat secara berkala. Peran aktif masyarakat setempat menjadi kunci utama agar bangunan bersejarah ini tetap terjaga.