Memaknai Ungkapan Syukur Warga Buton Pada Tradisi Pesta Laut Kaago Ago

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Sabtu, 28 Maret 2026 | 14:36 WIB
Pesta Laut Kaago Ago (diksipro)
Pesta Laut Kaago Ago (diksipro)

KLIK SAJA - Pesta Laut Kaago Ago merupakan salah satu tradisi khas dari Sulawesi Tenggara yang hingga kini masih dilestarikan oleh masyarakat Buton.

Ritual ini selalu diselenggarakan setiap tahun sebagai bentuk penghormatan sekaligus ungkapan rasa syukur kepada laut—sumber kehidupan utama bagi masyarakat pesisir.

Bagi masyarakat Buton, laut bukan sekadar ruang mencari nafkah, tetapi juga bagian dari kehidupan yang memiliki nilai spiritual dan harus dijaga keseimbangannya.

Pelaksanaan Pesta Laut Kaago Ago tidak dilakukan sembarangan. Waktu pelaksanaannya ditentukan berdasarkan perhitungan kalender tradisional yang diwariskan oleh leluhur.

Tanda-tanda alam menjadi pedoman utama dalam menentukan hari yang tepat. Masyarakat meyakini bahwa kesalahan dalam menetapkan waktu dapat membawa dampak buruk, baik terhadap kondisi laut maupun hasil tangkapan nelayan.

Kepercayaan ini menunjukkan betapa kuatnya hubungan antara manusia, alam, dan nilai-nilai tradisi yang dijaga turun-temurun.

Seusai  tanggal ditetapkan, masyarakat mulai mempersiapkan berbagai sesaji. Sesaji tersebut biasanya terdiri dari hasil laut, nasi, buah-buahan, dan aneka makanan lainnya.

Prosesi inti ritual dipimpin oleh seorang pemuka adat. Dalam pelaksanaannya, pemuka adat akan memanjatkan doa-doa yang ditujukan kepada leluhur serta kekuatan supranatural yang dipercaya menguasai laut.

Doa-doa tersebut berisi harapan akan keselamatan para nelayan saat melaut, permohonan hasil tangkapan yang melimpah, serta ungkapan rasa syukur atas berkah yang telah diberikan.

Setelah doa dipanjatkan, sesaji yang telah disiapkan kemudian dilarung ke laut. Prosesi ini bukan sekadar ritual, melainkan bentuk komunikasi spiritual antara masyarakat dan leluhur.

Di baliknya, terdapat makna simbolis yang dalam: konsep timbal balik. Segala yang diberikan oleh laut kepada manusia harus dikembalikan dalam bentuk persembahan sebagai wujud rasa syukur.

Baca Juga: Makna Tradisi Buru Babi Bagi Para Pria Minangkabau

Nilai ini secara tidak langsung mencerminkan kesadaran masyarakat Buton akan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan.

Selama ritual berlangsung, masyarakat diwajibkan menjaga sikap, ketertiban, dan kesopanan. Mereka percaya bahwa pelanggaran terhadap aturan tersebut dapat mendatangkan gangguan dari kekuatan supranatural.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X