KLIK JAWA – Ketika mendengar nama Pasar Tradisional ini, sekilas pikiran kita membayangkan betapa ‘nakal dan jorok’ atau ‘saru’ penamaannya, bagi yang memahami Bahasa Jawa.
Pasar ini bukan sekadar tempat transaksi, tetapi menjadi jantung denyut kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat Purworejo, khususnya daerah Pituruh.
Sebagai salah satu pasar tradisional paling ikonik di Purworejo, Pasar Kentu telah lama menjadi simbol kearifan lokal yang bertahan di tengah arus modernisasi.
Meski sepintas namanya terdengar “nakal” dalam bahasa Jawa, banyak yang meyakini bahwa kata Kentu berasal dari frasa ken tuku yang berarti “disuruh membeli.”
Ada pula versi lain yang menyebut asal-usulnya dari kata kenthul atau kenthul-kenthul yang bermakna “berkumpul,” merujuk pada fungsi pasar sebagai tempat bertemunya warga dari berbagai penjuru.
Diduga berdiri sejak era kolonial Belanda, Pasar Kentu merupakan salah satu pasar tradisional tertua di Purworejo.
Pasar ini sebenarnya tidak terlalu luas, namun bisa dikatakan sangat popular bagi warga Purworejo.
Sejak dulu, pasar ini memegang peran penting sebagai pusat perputaran ekonomi—tempat petani, pedagang, dan pembeli memperdagangkan hasil bumi, kerajinan tangan, hingga berbagai kebutuhan harian.
Tak hanya itu, pasar ini juga menjadi salah satu titik distribusi penting rempah-rempah dan bahan pangan di wilayah selatan Jawa Tengah.
Lokasinya sangat strategis, hanya beberapa ratus meter dari Alun-Alun Purworejo, membuatnya mudah diakses oleh warga lokal maupun pendatang.
Baca Juga: Mengenal Pasar Tolo Jeneponto, Pusat Perdagangan Kuda Terbesar di Indonesia
Angkutan umum seperti becak dan bus kecil kerap lalu-lalang, sementara pedagang dari desa sekitar juga memanfaatkan akses ini untuk membawa dagangan mereka.
Kedekatannya dengan pusat pemerintahan dan fasilitas publik menjadikan Pasar Kentu tak pernah kehilangan riuh aktivitasnya.
Terlepas dari beragam cerita mengenai asal-usul nama, sebutan “Kentu” telah melekat selama puluhan tahun dan menjadi bagian dari folklore setempat yang diwariskan turun-temurun.