KLIK SAJA - Saban tanggal 1 hingga 10 Muharam, masyarakat Bengkulu menyambut tahun baru Islam dengan menggelar sebuah tradisi sakral yang disebut Upacara Tabut.
Tradisi ini bukan hanya warisan budaya, tetapi juga refleksi spiritual yang sarat makna sejarah, keagamaan, dan sosial.
Tabut merupakan ritual tahunan untuk mengenang perjuangan dan kesyahidan cucu Nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husein, dalam tragedi berdarah di Padang Karbala pada 10 Muharam 61 H (681 M).
Meskipun tradisi ini berakar dari ajaran Syiah, seiring perjalanan waktu, masyarakat Bengkulu yang mayoritas Sunni tetap melestarikannya, namun dengan makna yang lebih inklusif dan adaptif.
Bukan lagi semata-mata meratapi kematian Husein, tetapi menjadikannya sebagai momen bermuhasabah, merenungi makna kehidupan dan kesalahan masa lalu, serta menyambut tahun baru Islam dengan semangat introspeksi dan persatuan.
Kata Tabut berasal dari bahasa Arab yang berarti peti kayu, merujuk pada Tabut Bani Israil yang dianggap membawa berkah ketika hadir dan membawa malapetaka saat hilang.
Tradisi ini diperkenalkan di Bengkulu oleh rombongan keturunan Ahlul Bait dari Persia dan Jazirah Arab yang pertama kali berlabuh di Bandar Sungai Serut pada 1336 M.
Dipimpin oleh Maulana Ichsad, tradisi ini kemudian diwariskan secara turun-temurun oleh keluarga Tabut hingga kini, sebagaimana tercatat dalam dokumen budaya Bengkulu.
Perayaan Tabut terdiri dari sembilan prosesi utama, mulai dari Mengambik Tanah, Duduk Penja, Meradai, Menjara, Arak Penja, Arak Serban, hingga tahap Gam, Arak Gendang, dan terakhir Tabut Tebuang pada 10 Muharam.
Tabut-tebut ini berbentuk menara tinggi berhiaskan kertas warna-warni yang kemudian "dibuang" ke laut atau sungai, sebagai simbol pengembalian ruh suci Husein ke Sang Khalik.
Tradisi Tabut mengandung tiga dimensi nilai utama. Pertama mengandung nilai Agama (Sakral), yaitu mengingatkan asal-usul penciptaan manusia dari tanah dan pentingnya menjaga spiritualitas dalam bingkai budaya lokal.
Meski ada kontroversi soal unsur-unsur magis, esensi dari ritual ini adalah mendekatkan diri kepada Tuhan.
Kedua mengandung nilai sejarah, yaitu sebagai bentuk kecintaan kepada Ahlul Bait dan peringatan akan kekejaman politik kekuasaan di masa lampau, serta perlawanan terhadap ketidakadilan yang menimpa keluarga Nabi Muhammad SAW.
Ketiga mengandung nilai Sosial dan Budaya, yaitu menyatukan berbagai lapisan masyarakat dalam satu perayaan bersama.