KLIK SAJA - Masjid Jami' Nurul Huda, yang terletak di Desa Canga'an, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, dipercaya sebagai masjid tertua di Bojonegoro.
Berdiri megah di dekat Sungai Bengawan Solo, masjid ini telah berusia sekitar tiga ratus tahun atau tiga abad.
Keberadaannya bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menyimpan sejarah panjang sebagai jejak peninggalan Kerajaan Mataram Islam di Jawa Timur.
Berdasarkan tulisan yang terpampang di pintu masuk masjid, Masjid Jami' Nurul Huda dibangun pada tahun 1262 Hijriyah atau sekitar tahun 1846 Masehi.
Baca Juga: Masjid Jami’ Assagaf Solo, Simbol Dakwah Islam Perantau Hadramaut di Surakarta
Meskipun usianya sudah sangat tua, masjid ini masih aktif digunakan oleh warga sekitar untuk beribadah dan kegiatan keagamaan lainnya.
Keberadaan masjid ini menjadi bukti nyata perjalanan sejarah Islam di Bojonegoro dan sekitarnya.
Sejarah Berdirinya Masjid Jami' Nurul Huda
Masjid ini dibangun oleh seorang prajurit Kerajaan Mataram Islam bernama Ki Ageng Wiroyudo.
Konon, Ki Ageng Wiroyudo adalah seorang prajurit yang melarikan diri dari kejaran pemerintahan kolonial Belanda.
Dalam pelariannya, ia menggunakan perahu getek yang terbuat dari pohon pisang untuk menyusuri Sungai Bengawan Solo.
Setelah berbulan-bulan mengarungi sungai, Ki Ageng Wiroyudo pertama kali bersandar di Desa Kabalan, di mana ia tinggal selama kurang lebih satu tahun.
Setelah itu, Ki Ageng Wiroyudo melanjutkan perjalanan dan tiba di Desa Canga'an, ia disambut hangat oleh masyarakat setempat.
Sebagai bentuk syukur dan dedikasinya kepada masyarakat, Ki Ageng Wiroyudo membangun sebuah surau atau masjid kecil yang kemudian berkembang menjadi Masjid Jami' Nurul Huda.