opini

Alasan Mengapa Menkeu Purbaya Desak Pertamina Bangun Kilang Baru, Sesusah Itukah?

Sabtu, 4 Oktober 2025 | 06:49 WIB
Kilang Minyak Balikpapan yang sedang lakukan Pengembangan Fasilitas (PT Pertamina)

Sejak 2018, Pertamina sebenarnya sempat menjajaki kerja sama dengan sejumlah perusahaan global, mulai dari Rosneft, Saudi Aramco, hingga Mubadala Energi Indonesia, untuk membangun kilang di Balikpapan dan Cilacap.

Namun, hingga kini, belum satu pun proyek tersebut terealisasi. Dari catatan Pertamina per Februari 2021, proyek pembangunan Kilang Tuban, ekspansi Balikpapan, Dumai, Balongan, dan Cilacap diperkirakan membutuhkan investasi total 43 miliar dolar AS atau sekitar Rp717,8 triliun.

Jika berjalan, proyek-proyek itu diproyeksikan mampu mengolah 1,4 juta barel minyak mentah per hari, menghasilkan BBM sekitar 1,2 juta barel per hari, serta memproduksi petrokimia hingga 12 juta ton per tahun.

Kunci keberhasilan pembangunan kilang sebenarnya ada pada skema kerja sama yang tepat.

Pertamina tidak bisa hanya mengandalkan pinjaman untuk membiayai proyek, melainkan juga harus mampu mencari equity partner yang dapat berbagi risiko dan modal.

Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional, Taufik Adityawarman, pernah menjelaskan bahwa pola pendanaan kilang dibagi ke dalam tiga jalur utama.

Pertama, melalui ekuitas, baik dari internal Pertamina untuk kebutuhan dana yang lebih kecil—seperti proyek RDMP Balongan—maupun melalui penyertaan modal dari mitra swasta.

Kedua, lewat skema pinjaman, yang bisa berasal dari lembaga pembiayaan ekspor (Export Credit Agency/ECA) dengan syarat penggunaan peralatan dari negara asal, atau dari bank-bank komersial.

Terakhir, pembangunan bisa ditempuh lewat mekanisme outsourcing, yaitu pengalihan sebagian unit atau area agar tidak membebani arus investasi dan dialokasikan sebagai biaya operasional (OPEX).

Namun, opsi pertama sering kali menemui jalan buntu. Menarik minat investor swasta kerap menghadapi hambatan serius.

Pada proyek RDMP RU IV Cilacap, misalnya, Pertamina gagal membentuk joint venture dengan Saudi Aramco dan kehilangan potensi investasi sekitar 6 miliar dolar AS. Kendalanya terletak pada perbedaan penilaian aset.

Menurut Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP), nilai kilang Cilacap mencapai 5,66 miliar dolar AS, sementara Aramco menaksir hanya 2,8 miliar dolar AS berdasarkan valuasi 2016 yang dikonversi ke 2018.

Perbedaan itu membuat kerja sama yang digagas sejak 2014 resmi kandas pada April 2020 setelah Aramco mundur.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Keuangan PT Kilang Pertamina Internasional, Fransetya Hasudungan Hutabarat, menambahkan bahwa tekanan bisnis kilang memang nyata dirasakan di dalam negeri.

Dari enam kilang yang ada dengan kapasitas desain sekitar 1,1 juta barel per hari, baru mampu memenuhi sekitar 60–70 persen kebutuhan BBM nasional.

Halaman:

Tags

Terkini