opini

Menyoal Debat Dedi Mulyadi dan Aura Cinta: Antara Keadilan Marjinal dan Realita Kemiskinan

Selasa, 29 April 2025 | 16:11 WIB
ilustrasi debat antara KDM dan Aura Cinta (suara)

Di balik ucapannya, tersirat narasi panjang tentang marginalisasi kelompok rentan, yang selama ini seolah hanya menjadi objek dari kebijakan tanpa ruang untuk menyuarakan kepentingan mereka sendiri.

Aura menolak dikotomi antara kemiskinan dan hak untuk merayakan momen penting.

Menurutnya, acara perpisahan bisa tetap dilaksanakan dengan biaya minim, yang tidak membebani siswa atau orangtua.

Di sinilah letak poin krusial dalam debat itu — perbedaan sudut pandang tentang apa yang dianggap penting dalam kehidupan masyarakat miskin.

Dedi menanggapi dengan peringatan tentang pentingnya pengendalian gaya hidup.

Bagi Dedi, kemiskinan harus dijawab dengan efisiensi, bukan dengan pemborosan pada hal-hal simbolik.

Namun, pernyataan tersebut membuka ruang kritik: apakah negara hanya bertugas mengatur efisiensi pengeluaran warganya, ataukah juga berkewajiban menyediakan ruang aman untuk ekspresi, martabat, dan penghargaan diri, bahkan bagi yang hidup di pinggiran kota?

Debat ini memperlihatkan bahwa kemiskinan bukan hanya soal angka dan pengeluaran, tapi juga menyangkut hak untuk merasakan kehidupan yang utuh — termasuk merayakan pencapaian kecil yang penuh makna.

Keadilan Marjinal dan Tugas Negara

Mayoritas warga dalam forum akhirnya menyatakan setuju dengan kebijakan penghapusan wisuda dan study tour, karena dianggap mengurangi beban finansial.

Namun, apakah itu berarti suara seperti Aura tidak valid? Justru sebaliknya, suara seperti inilah yang perlu lebih sering didengar.

Aura mewakili kelompok marjinal yang sering terpinggirkan dalam perumusan kebijakan publik.

Penggusuran yang dilakukan tanpa partisipasi warga, kebijakan larangan perpisahan yang generalisasi, dan narasi efisiensi yang tak mempertimbangkan aspek psikososial — semua ini menunjukkan betapa pentingnya pemerintah daerah mengintegrasikan keadilan sosial dalam setiap kebijakan.

Keadilan marjinal tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan atau keringanan biaya.

Ia menuntut pengakuan akan eksistensi, martabat, dan peran warga kecil dalam membangun narasi kebangsaan.

Halaman:

Tags

Terkini