Menyoal Debat Dedi Mulyadi dan Aura Cinta: Antara Keadilan Marjinal dan Realita Kemiskinan

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Selasa, 29 April 2025 | 16:11 WIB
ilustrasi debat antara KDM dan Aura Cinta (suara)
ilustrasi debat antara KDM dan Aura Cinta (suara)

KLIK SAJA - Pada Sabtu, 26 April 2025, kanal YouTube resmi milik Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengunggah sebuah video yang dengan cepat menarik perhatian publik.

Pada video tersebut, Dedi berdebat dengan seorang remaja perempuan bernama Aura Cinta, lulusan SMA asal Bekasi, yang datang bersama ibunya dan sejumlah warga korban penggusuran bantaran Sungai Bekasi.

Yang tampak sederhana — dialog antara pemimpin daerah dan warga — ternyata menyimpan kedalaman persoalan yang merefleksikan ketegangan antara kebijakan publik, keadilan sosial, dan hak-hak marjinal.

Wisuda, Gaya Hidup, dan Perspektif Negara

Pertanyaan utama yang dilontarkan oleh Aura adalah mengenai larangan acara perpisahan (wisuda) yang diterapkan oleh pemerintah daerah.

Baginya, momen itu adalah bagian dari penghargaan terhadap proses belajar, sebuah pengalaman emosional yang penting meski dengan biaya sederhana.

Namun Dedi dengan tegas menjawab, bahwa larangan itu bukan tanpa alasan.

Ia melihat adanya ironi sosial — banyak warga yang belum memiliki rumah layak, namun masih berusaha menyelenggarakan acara seremonial yang bisa menambah beban ekonomi.

“Rumah belum punya, tetapi ingin tetap mengadakan acara wisuda di sekolah,” ujar Dedi.

Ia menegaskan bahwa wisuda sebaiknya menjadi simbol akademik yang serius dan dilakukan hanya di jenjang pendidikan tinggi, bukan di tingkat TK atau SMA.

Bagi Dedi, keputusan itu adalah bentuk tanggung jawab pemerintah dalam melindungi rakyat miskin dari beban ekonomi yang tidak produktif.

Aura Cinta: Suara dari Pinggir Sungai

Aura, dengan ketegasan dan keberaniannya, membalas bahwa dia tidak sedang meminta bantuan, melainkan menuntut keadilan.

Ia mengkritik proses penggusuran yang menurutnya dilakukan tanpa musyawarah. "Saat penggusuran, tidak ada musyawarah, hanya Satpol PP yang langsung membongkar rumah,” keluhnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X