Faktanya, 72 persen warga Palestina menyatakan dukungan terhadap serangan Hamas pada 7 Oktober.
Bahkan dukungan terhadap kelompok tersebut telah meningkat di Gaza dan melonjak di Tepi Barat.
Berdasarkan jejak pendapat sebelum 7 Oktober 2023, hanya sepertiga warga Palestina yang mendukung solusi dua negara.
Semenjak kejadian 7 Oktober, pejabat tinggi Palestina bahkan memuji atau membenarkan serangan tersebut, menolak solusi dua negara, dan bersumpah untuk menciptakan Palestina “dari sungai hingga laut”
Artinya dengan kata lain, menghancurkan negara Yahudi sehabis-habisnya, hal yang bisa dimaklumi sebagai bagian dari mempertahankan tanah air.
Sementara itu, Otoritas Palestina (PA) yang konon lebih moderat, yang memerintah Tepi Barat dan yang menurut Presiden Biden harus memerintah Gaza setelah perang.
Pejabat PA menduga Israel sendiri yang mengebom festival musik tempat Hamas membantai warga Israel dan memalsukan bukti untuk membenarkan serangannya di Gaza.
Jibril Rajoub, seorang pejabat Fatah (partai politik PA) dan calon pengganti Presiden Mahmoud Abbas, memperingatkan tentang "ledakan berikutnya, yang jauh lebih dahsyat," di Tepi Barat dan mengatakan Hamas adalah bagian dari "jaringan nasional" Palestina.
PA terus menggambarkan para mujahid Palestina yang kehilangan nyawa sebagai "martir" pembela negara.
Di sisi lain, “Konflik ini,” kata Netanyahu , “bukan tentang tidak adanya negara, negara Palestina, tetapi tentang keberadaan negara, negara Yahudi.”
Jika sudah demikian, dimana kedua belah pihak benar-benar ingin saling menghabisi, maka solusi dua negara sudah pasti jauh dari realisasi.
Kita belum mengetahui efek domino apabila Israel benar-benar menguasai Gaza sepenuhnya.
Adalah reaksi negara-negara Timur Tengah yang paling memegang peran krusial, karena dengan melihat peristiwa 7 Oktober 2023, kekuatan militer sebenarnya Israel tidaklah terlalu kuat, maka bisa saja negara-negara Arab bisa membalas kekalahan mereka pada perang Yom Kippur.
Namun marilah kembali kepada nasib para pengungsi Palestina yang makin terlunta-lunta, dan semua elemen internasional harus mulai tertuju pada kamp Jabalia yang menjadi sasaran tembak Israel.***