Aksi protes ini menunjukkan bahwa pelajar Papua memiliki kesadaran politik dan keberanian bersikap.
Mereka bukan sekadar objek pembangunan, melainkan subjek yang sadar akan haknya untuk menentukan arah masa depan pendidikan mereka sendiri.
Dari sini, kita belajar bahwa pendekatan pembangunan yang efektif harus dimulai dari mendengar, memahami, dan menghargai suara-suara lokal.
Program sebesar apapun akan sia-sia jika tidak berpijak pada kenyataan dan kebutuhan masyarakat yang dituju.***