KLIK SAJA – Malam itu Nabi Muhammad SAW tampak bersedih dan bermunajat meminta petunjuk kepada Allah SWT.
Bagaimana tidak, tahun itu disebut Amul Huzn atau Tahun Kesedihan bagi Rasulullah SAW, karena pada masa itu, beliau kehilangan dua sosok penting dalam kehidupan.
Tahun itu, Abu Thalib, paman yang memelihara dan membesarkan Rasulullah SAW meninggal dunia.
Tentunya hal tersebut sangat menyesakkan hati Nabi Muhammad SAW, karena Abu Thalib adalah sosok ‘pengganti’ ayahnya, karena beliau adalah yatim semenjak lahir.
Belum lagi semasa awal-awal dakwah, Abu Thalib selalu membela Rasulullah SAW dari persekusi kaum Bani Quraisy.
Tak lama dari kematian Abu Thalib, Rasulullah harus menelan kesedihan, yaitu meninggalnya istri tercinta, Khadijah.
Khadijah binti Khuwailid adalah sosok yang berjasa dalam masa awal dakwah Rasulullah SAW di kota Mekah.
Khadijah termasuk Assabiqul Al Awwalun, atau tokoh-tokoh yang pertama kali memeluk Islam.
Dialah sosok yang meyakinkan Nabi Muhammad SAW, bahwa suaminya adalah sang penyampai pesan Allah, seorang yang dipilih Tuhan untuk menyampaikan dakwah.
Tentunya hal tersebut sangat memukul hati Rasulullah SAW, karena begitu besarnya peran keduanya dalam membersamai pada masa awal dakwah.
Inna Ma’al usri Yusra, dibalik kesulitan pasti ada jalan keluarnya.
Pada saat Rasulullah pada di titik kesulitan pada fase hidupnya, beliau tetap berpegang teguh pada dakwah mulianya.
Hingga akhirnya pada malam itu, Allah SWT menjawab munajat Rasulullah SAW dengan memberangkatkan beliau dalam perjalanan mulia untuk melebur kesedihannya.
Pada malam 27 Rajab tahun kesepuluh kenabian Rasulullah SAW, beliau diberi hadiah istimewa dari Allah SWT berupa perjalanan mulia yang kita kenal Isra Mi’raj.