Yousaf secara khusus menyoroti dukungan Musk terhadap tokoh dan gerakan yang terkait dengan ideologi sayap kanan, termasuk Tommy Robinson, Geert Wilders, dan partai AfD Jerman.
"Yang mengkhawatirkan, simpatinya terhadap kelompok sayap kanan, yang didorong oleh kebencian anti-Muslim, tampaknya menjadi kekuatan pendorong bagi orang terkaya di dunia," kata Yousaf.
Ia lebih lanjut menuduh Musk berupaya menumbangkan demokrasi, dengan mengutip dugaan upaya raja bisnis Amerika itu untuk menggulingkan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.
Musim panas lalu, Yousaf memperingatkan tentang pengaruh Musk setelah miliarder itu memicu intoleransi rasial di Inggris.
Sejak saat itu, tindakan Musk hanya memperkuat kekhawatirannya, klaim Yousaf. "Segala sesuatu, segala sesuatu yang telah dilakukannya sejak saat itu hanya memperkuat pandangan itu."
Seruan Yousaf untuk bertindak menekankan perlunya menghadapi Musk dan pihak lain yang mempromosikan retorika yang memecah belah.
“Mengabaikan Musk dan kelompok sayap kanan ekstrem bukanlah pilihan. Kita perlu melawan mereka. Dan kita harus menghadapi retorika yang memecah belah,” katanya.
Kita akan melihat nantinya Elon Musk bersama Donald Trump akan melakukan politik “America First” ke seluruh dunia lewat arogansinya serta kekuatan tak terbatasnya baik uang dan militer, hingga bisa saja dapat menjelma sebagai manusia paling berbahaya di dunia.***