Tentunya dengan historis tersebut, ia pasti harus tetap mencitrakan diri sebagai pemimpin yang harus mendukung kelompok mayoritas Sunni yang selama ini ditindas oleh Rezim Assad.
Artinya kini ia berada di atas tiga kepentingan utama, yaitu kelompok Islam Sunni, minoritas serta pergaulan internasional.
Sungguh bukan hal yang mudah, mengingat negara ini sedang dalam kehancuran pada berbagai aspek, apalagi sebagian kecil timur negara ini masih dikuasai kelompok ISIS.
Mau tak mau, Ahmad Al Sharaa harus membangun negara ini dalam naungan inklusif yang berpihak pada semua kelompok, agar dapat diterima oleh pergaulan internasional.
Bagaimanapun negara Suriah masih membutuhkan sokongan dana dari negara-negara besar untuk bangkit kembali.
Maka tugas dari Kepemimpinannya yang harus menciptkan iklim kondusif, sehingga bisa menarik negara-negara besar untuk berinvestasi di sana.
Belum dapat dipastikan, apakah dirinya akan benar-benar fokus membangun negaranya atau mulai berani menunjukkan identitas asli arah politiknya, seperti menentang agresi Israel di dataran tinggi Golan, kita lihat saja.***