Ahmad Al Sharaa Hadapi Tantangan Kepemimpinan Inklusif dan Islamis

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Minggu, 5 Januari 2025 | 05:30 WIB
Ahmad Al Sharaa mengenakan setelan jas ala Barat saat bertemu tamu kenegaraan (AP News)
Ahmad Al Sharaa mengenakan setelan jas ala Barat saat bertemu tamu kenegaraan (AP News)

KLIK SAJA - Pada saat masih menggunakan nama samaran Abu Muhammad Al Jolani, yang kini menggunakan nama aslinya Ahmad Al Sharaa, dirinya masih menggunakan sorban dan pakaian militer pejuang jihad saat memimpin kelompok milisi Hayat Tahrir al Sham (HTS).

Namun seketika hal tersebut berubah kita dirinya bersama HTS serta kelompok milisi lainnya berhasil menumbangkan diktator Bashar Al Assad lewat perlawanan yang sangat singkat dan mengagumkan.

Dimana setelah kejadian tersebut dirinya bertransformasi menjadi agak ‘moderat’, dia menanggalkan sorbannya, memilih memakai topi kasual militer, bahkan lebih sering menampilkan rambut ikal rapinya, namun tetap menjaga janggut khasnya yang mirip mendiang Fidel Castro atau Osama bin Laden.

Baca Juga: Pemimpin Baru Suriah: Penyusunan Konstitusi dan Pemilu Butuh Waktu 4 Tahun

Bahkan dalam beberapa kesempatan terakhir ia bahkan memakai jas dan dasi ala Barat saat menerima tamu kenegaraan, sesuatu hal yang langka bagi pemimpin dunia Arab, apalagi dia berlatar belakang pejuang Jihad.

Pemilihan busananya seakan menyiratkan bahwa dirinya berupaya bertransformasi menampilkan citra pemimpin yang moderat serta inklusif.

Suatu catatan, dimana dirinya berjanji akan menyatukan semua elemen warga masyarakat Suriah yang majemuk tanpa terkecuali, termasuk kelompok Syiah Alawi.

Pada suatu kesempatan, ia menyatakan bahwa warga Suriah sudah lelah berperang, saatnya mereka bersatu untuk membangun negara.

Ia bahkan dengan lantang mengatakan bahwa butuh waktu tiga hingga empat tahun, negara tersebut untuk menyusun konstitusi baru serta melaksanakan pemilu.

Baca Juga: Loyalis Assad Bunuh 14 Pasukan Penguasa Baru Suriah dalam Penyergapan

Sungguh hal yang tak mudah, karena pada kasus terakhir masih terjadi friksi dengan kelompok minoritas di Suriah.

Kasus pembakaran pohon Cemara saat perayaan Natal, serta serangan kelompok Alawi, masih mewarnai pergolakan di Suriah pasca penggulingan Rezim Assad.

Tentunya, hal-hal tersebut harus menjadi perhatian bagi Ahmad Al Sharaa yang menyerukan perdamaian dan persatuan.

Latar belakangnya yang pernah terkait dengan Al Qaeda dan ISIS, tentunya menimbulkan tanda tanya besar tentang visi sebenarnya dari dalam dirinya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Tags

Rekomendasi

Terkini

X