Jadi, ekonomi kita memang tumbuh, tapi masih rapuh. Pertumbuhan tidak boleh hanya ditopang belanja negara, melainkan juga daya beli dan sektor produktif rakyat.
Anda cukup keras mengkritik proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung. Mengapa?
Sejak awal proyek itu memang salah desain. Saya sudah bilang di rapat: ini bayi sungsang.
Jaraknya hanya sekitar 200 kilometer, tapi biayanya lebih dari US$7 miliar.
Pemilihan stasiunnya pun keliru — Halim dan Tegalluar terlalu jauh dari pusat aktivitas ekonomi dan bisnis Jakarta maupun Bandung.
Akibatnya, potensi penumpang tidak optimal dan efisiensi transportasi yang dijanjikan tidak tercapai.
Berdasarkan catatan yang saya miliki, sebenarnya Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, sudah tiga kali mengingatkan Presiden Jokowi terkait proyek ini.
Pertama, soal aspek teknis, mengingat pengalaman Tiongkok dalam pembangunan kereta cepat masih relatif baru dibandingkan Jepang atau Eropa.
Kedua, aspek finansial, karena sejak awal sudah muncul keraguan atas kelayakan proyek ini secara ekonomi.
Dan ketiga, aspek risiko bencana alam, sebab jalur yang dilalui proyek KCJB melewati kawasan rawan gempa dan tanah labil.
Artinya, peringatan itu sebenarnya sudah muncul sejak awal?
Betul. Dan faktanya, kekhawatiran itu kini terbukti. Target penumpang 40 ribu per hari tidak tercapai realisasinya hanya sekitar 16 ribu orang.
Tiket yang semula Rp400 ribu pun harus diturunkan menjadi Rp250 ribu demi menarik minat masyarakat.
Artikel Terkait
Tantangan Regulasi dan Optimisme Pertumbuhan: Bagaimana Industri Asuransi Syariah Indonesia Menyikapi Deadline Pemisahan Unit Usaha Syariah 2026?
Pengumuman di Forbes Global CEO Conference 2025, Presiden Prabowo Targetkan BUMN Lebih Ramping dan Profesional dengan Standar Bisnis Global
Skandal Korupsi BBM Pertamina Patra Niaga, Pengamat Ungkap Potensi Negara Menagih Kelebihan Selisih Harga Solar
Menkeu Purbaya Tegaskan Tolak Bayar Utang Proyek 'Whoosh' dengan APBN, Luhut Binsar Usulkan Solusi Restrukturisasi Total
Optimisme CEO Danantara di Tengah Pengejaran Target Ekonomi 8 Persen: Investasi Jadi Kunci Sukses