wisata

Memahami Filosofi Kesenian Reog Ponorogo yang Penuh Makna Kesetiaan Akan Kebenaran

Minggu, 5 Oktober 2025 | 14:08 WIB
Ilustrasi Kelompok Kesenian Reog Ponorogo (Rumbelnesia)

Karena itu, Warok dianggap sebagai sosok sesepuh yang memiliki ilmu tinggi dan kesaktian luar biasa.

Sejarah Warok berakar pada masa Kerajaan Majapahit di daerah Wengker yang dipimpin Prabu Brawijaya.

Saat itu, terdapat seorang tokoh sakti bernama Ki Ageng Kutu, guru bela diri yang melahirkan banyak murid.

Mereka yang telah menguasai ilmunya kemudian disebut Warok. Namun, ketika terjadi pemberontakan antara pasukan Ki Ageng Kutu dan pasukan Raden Bathara Katong, keturunan Prabu Brawijaya, pertempuran itu berakhir dengan kekalahan pihak Ki Ageng Kutu.

Setelahnya, sebagian muridnya bergabung menjadi pengikut setia Bathara Katong, sementara dua murid, yakni Warok Surogentho dan Warok Singokobro, tetap setia kepada Ki Ageng Kutu dan memilih menentang pemerintahan baru.

Dari kisah inilah lahir simbol Warok yang kita kenal sekarang—sosok pemberani, teguh pada pendirian, dan setia pada kebenaran.

Dalam pertunjukan tari Warok, biasanya terdapat dua barisan penari yang menggambarkan pasukan Ki Ageng Kutu dan pasukan Raden Bathara Katong.

Formasi ini menjadi simbol pertarungan antara dua kekuatan besar dalam sejarah Ponorogo. Selain nilai-nilai perjuangan, busana yang dikenakan para Warok juga menyimpan makna filosofis mendalam.

Blangkon yang menutupi kepala melambangkan kemampuan untuk menyimpan rahasia, menahan hawa nafsu, serta menjaga diri dari perbuatan tercela.

Baju hitam yang digulung hingga tampak bagian dalam berwarna merah mencerminkan semangat menolong sesama dan keteguhan hati dalam menghadapi kehidupan.

Sementara itu, celana kombor atau celana longgar berwarna hitam bermakna “nglogarake roso lan longgar atine”, yakni hati yang lapang dan sabar menghadapi segala ujian.

Dalam kepercayaan masyarakat Ponorogo, celana kombor juga diyakini memiliki kekuatan spiritual yang menambah kesaktian seorang Warok.

Lebih dari sekadar pertunjukan seni, Reog Ponorogo adalah wujud nyata warisan budaya yang mencerminkan kekuatan spiritual dan karakter masyarakat Jawa Timur.

Di balik kemegahan topeng Singo Barong dan hentakan kendang yang menggema, tersimpan nilai-nilai luhur tentang keberanian, kesetiaan, kebijaksanaan, serta hubungan antara manusia dengan Tuhan.

Melalui Reog, generasi penerus diingatkan bahwa kekuatan sejati tidak hanya berasal dari tenaga dan keberanian, tetapi juga dari kemurnian hati dan ketulusan dalam mengabdi kepada kebenaran.***

Halaman:

Tags

Terkini