KLIK SAJA - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menjadi perhatian publik, termasuk ketika muncul kasus siswa yang mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan program tersebut.
Berbagai langkah perbaikan dapat dilakukan, mulai dari pemeriksaan dapur hingga penguatan standar keamanan pangan.
Namun, ada satu gagasan lain yang menarik untuk dibahas, yakni mengevaluasi kembali skala produksi dapur MBG.
Dalam sebuah tulisan opini, CEO Promedia Group Agus Sulistriyono menyoroti kemungkinan bahwa dapur dengan kapasitas ribuan porsi perlu dipertimbangkan kembali modelnya.
Gagasannya sederhana, yaitu memperbanyak dapur dengan kapasitas lebih kecil sehingga produksi makanan tidak terlalu terpusat pada satu tempat.
Berikut beberapa poin utama dari gagasan tersebut.
Produksi 3.000 Porsi dalam Satu Dapur Bukan Pekerjaan Sederhana
Menyediakan ribuan makanan setiap hari membutuhkan rangkaian proses yang panjang sejak bahan baku datang hingga makanan diterima siswa.
Bahan makanan harus disimpan, dibersihkan, dipotong, dimasak, dikemas, kemudian dikirim menuju sekolah dalam waktu yang relatif terbatas.
Semakin besar jumlah makanan yang diproduksi, semakin banyak pula tahapan yang harus dikendalikan secara bersamaan.
Dalam pandangan Agus Sulistriyono, kondisi tersebut layak menjadi bahan evaluasi ketika kasus keamanan pangan dalam program MBG masih menjadi perhatian.
Satu persoalan dalam rantai produksi berpotensi berdampak terhadap jumlah penerima makanan yang jauh lebih besar apabila seluruh produksi terpusat pada satu dapur.
Karena itu, selain membahas SOP dan sertifikasi, skala produksi juga dapat menjadi bagian dari evaluasi model MBG.
Dapur Besar Bisa Dipertimbangkan untuk Dipecah Menjadi Unit Lebih Kecil
Salah satu gagasan yang ditawarkan adalah membagi kapasitas produksi besar menjadi beberapa dapur dengan jumlah porsi yang lebih sedikit.