opini

Sejarah Perkembangan Moda Transportasi di Jakarta: Mulai Dari Era Trem Kuda Hingga Jalur Bawah Tanah MRT

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:22 WIB
Ilustrasi sejarah moda transportasi di Jakarta (gemini ai)

Dengan jalur khusus dan pola layanan yang lebih terstruktur, TransJakarta membuka babak baru dalam pengelolaan transportasi publik di Indonesia.

Lebih dari sekadar menyediakan layanan yang cepat dan terjangkau, TransJakarta menjadi simbol transformasi dari angkutan perkotaan yang sebelumnya berjalan secara parsial menuju sistem transportasi massal yang dikelola secara profesional.

Berawal dari Koridor 1 Blok M–Kota, jaringan TransJakarta kini berkembang pesat. Hingga tahun 2024, layanan ini telah mencakup 242 rute dengan armada sebanyak 4.388 unit dan menjangkau sekitar 89,7 persen wilayah Jakarta.

Transformasi tersebut berlanjut dengan hadirnya Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta yang mulai beroperasi pada tahun 2019.

Kehadiran MRT menjadi tonggak penting dalam sejarah transportasi ibu kota, membuktikan bahwa Jakarta mampu mengadopsi teknologi transportasi modern untuk menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat perkotaan yang semakin kompleks.

Dengan sistem bawah tanah dan jalur layang, MRT menawarkan kecepatan, kenyamanan, serta ketepatan waktu yang selama bertahun-tahun menjadi harapan warga Jakarta.

Lebih dari itu, pembangunan MRT juga mendorong perubahan tata ruang kota melalui pengembangan kawasan berbasis transit atau transit-oriented development (TOD), yang mengutamakan konektivitas, kemudahan akses, dan lingkungan yang lebih ramah bagi pejalan kaki.

Saat ini, pembangunan MRT Jakarta masih terus berlanjut melalui Fase 2A yang terbagi dalam dua segmen.

Segmen pertama menghubungkan Bundaran HI dengan Harmoni dan ditargetkan selesai pada tahun 2027. Sementara itu, segmen kedua yang menghubungkan Harmoni hingga Kota diproyeksikan rampung pada tahun 2029.

Di sisi lain, kehadiran LRT Jakarta dan LRT Jabodebek semakin melengkapi jaringan transportasi massal di kawasan metropolitan.

Kedua moda ini dirancang untuk memperluas jangkauan layanan ke berbagai wilayah yang sebelumnya belum terhubung secara optimal, sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi.

Upaya integrasi juga terus diperkuat melalui program JakLingko. Melalui satu kartu atau aplikasi, masyarakat dapat berpindah dari satu moda ke moda lainnya dengan lebih mudah dan efisien.

Sistem ini menghadirkan pengalaman perjalanan yang lebih nyaman sekaligus memperkuat konsep transportasi publik yang terhubung dari awal hingga akhir perjalanan.

Perkembangan transportasi Jakarta tidak hanya memberikan manfaat bagi warganya sendiri. Berbagai model pengelolaan dan inovasi yang diterapkan di ibu kota telah menjadi inspirasi bagi banyak daerah.

Sistem BRT TransJakarta, misalnya, menjadi referensi dalam pengembangan layanan transportasi publik di sejumlah kota seperti Bogor, Semarang, Palembang, dan Yogyakarta.

Halaman:

Tags

Terkini