Dalam imajinasi strategi sekuler, kekerasan melemahkan dengan menghancurkan kapasitas. Namun dalam imajinasi politik-teologis, kekerasan justru dapat menguatkan dengan menegaskan tujuan suci.
Negara ideologis yang melihat dirinya melalui lensa perlawanan sakral mungkin kehilangan komandan, infrastruktur, dan wilayah, tetapi tetap memperoleh sesuatu yang penting secara simbolik: akses baru pada bahasa kemartiran.
Inilah salah satu tragedi perang melawan negara ideologis—semakin keras diserang dari luar, semakin mudah bagi mereka untuk menghidupkan kembali mitos yang menopang mereka dari dalam.
Teologi tersebut kerap digunakan secara sinis, mengirim orang untuk mati sambil menyucikan kehilangan dalam bahasa iman.
Namun kritik moral membutuhkan kejelasan. Jika kita ingin memahami bagaimana Republik Islam bertahan, kita harus melihat bahwa ketahanannya bukan hanya bersifat militer atau institusional, tetapi juga simbolik—terletak pada kemampuannya mengubah luka menjadi otoritas moral.
Itulah sebabnya dimensi keagamaan menjadi penting. Bukan karena perang ini semata-mata tentang agama, tetapi karena agama membantu mengubah penderitaan menjadi makna politik.
Republik Islam kuat ketika mampu membalas serangan, dan sama kuatnya ketika mampu meyakinkan cukup banyak orang bahwa bertahan dari serangan itu sendiri adalah bentuk kemenangan.
Dengan demikian, perang terhadap Iran dapat menghasilkan paradoks yang mencolok: melemahkan fondasi material negara, namun sekaligus memperkuat kisah sakral yang membuatnya terus bertahan.***