KLIK SAJA – Pada pekan lalu, para pemimpin dunia saling ‘tukar’ pidato tentang masa depan negara Palestina.
Sudah jelas arahnya, ada yang pro dan adapula menolak keras usulan pembentukan negara Palestina.
Namun, itu hanyalah panggung semu, isu pembentukan two state solution, gencatan senjata atau bahkan pengiriman bantuan kemanusiaaan hanyalah retorika pencitraan para pemimpin dunia.
Donald Trump dengan congkaknya akan kesombongannya, Netanyahu masih pede menolak keras pembentukan negara Palestina, sementara pemimpin-pemimpin Negara Islam hanya sekedar teriak pro Palestina tapi tak miliki taji kalahkan hak veto AS.
Maka ketika “peta” wilayah Palestina semakin terkikis dan enklave-enklave tersisa bagai serpihan kaca yang retak, pertanyaan tentang kemungkinan kembalinya Palestina sebagai entitas utuh bukan lagi sekadar teka-teki akademis. Ia telah menjelma luka yang terus menganga.
Jaringan teritorial yang tercerai-berai di Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Jalur Gaza tampak seperti kantong-kantong isolasi jika dilihat dari peta.
Di sisi lain, lebih dari 600.000 pemukim Israel tinggal di wilayah yang diduduki. Dalam kondisi demikian, pembagian wilayah secara adil hampir mustahil dilakukan.
Baca Juga: PM Keir Starmer: Inggris Akui Negara Palestina demi Perdamaian
Realitas pendudukan, praktik aneksasi de facto, serta pembangunan permukiman telah begitu drastis mengubah lanskap politik dan geografis Palestina.
Situasi itu membuat gagasan kembalinya kedaulatan teritorial Palestina semakin sulit diwujudkan.
Alih-alih menghadirkan harapan, mitos status quo justru mengikis kemanusiaan. Skenario dua negara yang sejak lama menjadi “jalan keluar” terasa makin jauh dari nyata.
Tanpa pembalikan kekuasaan de jure yang sungguh-sungguh, konsep two state solution hanya akan menjadi retorika yang memperpanjang penderitaan rakyat Palestina.
Isu ini mencuat pula di Indonesia, khususnya ketika Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya penerapan solusi dua negara guna mengakhiri tragedi genosida di Palestina.
Sejak awal, Prabowo menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. Namun, ia juga menekankan pentingnya menjamin keselamatan dan keamanan Israel.