KLIK SAJA - Inggris secara resmi mengakui keberadaan negara Palestina. Pengumuman bersejarah ini disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Inggris Keir Starmer pada Minggu (21/9/2025), jelang Sidang Umum PBB di New York.
“Menghadapi kengerian yang makin meningkat di Timur Tengah, kami bertindak untuk menjaga kemungkinan perdamaian dan solusi dua negara,” ujar Starmer dalam pernyataan video, dikutip dari Antara.
Menurutnya, pengakuan tersebut berarti mengupayakan Israel yang aman dan terjamin, berdampingan dengan Palestina yang layak. “Saat ini, kita tidak memiliki keduanya,” tegasnya.
Pengakuan ini tak lama dikeluarkan setelah pertemuan dengan Donald Trump di London, tentunya hal ini sangat mengecewakan bagi pihak Amerika Serikat.
Tekanan Diplomatik dan Janji Politik
Langkah ini bukan kejutan sepenuhnya. Pada Juli lalu, Starmer telah berjanji bahwa Inggris akan mengakui negara Palestina pada September, kecuali Israel mengambil “langkah-langkah substantif” untuk menghidupkan kembali proses perdamaian.
Keputusan Inggris datang setelah tekanan internasional kian menguat. Australia dan Kanada pada awal pekan ini juga menyatakan pengakuan resmi terhadap Palestina.
Sementara Prancis, Luksemburg, dan Malta berencana menyampaikan dukungan serupa di forum PBB.
Tekanan pengakuan negara Palestina semakin menguat di berbagai negara, seiring ketidakmampuan Israel menciptakan perdamaian di Tepi Barat dan Jalur Gaza.
Baca Juga: Ribuan Warga Australia Aksi Bela Palestina di Jembatan Sydney Harbour
Wakil Perdana Menteri Inggris David Lammy menegaskan, “Sekaranglah saatnya untuk memperjuangkan solusi dua negara,” ujarnya kepada BBC.
Di sisi lain, pemerintah Israel mengecam langkah Inggris tersebut dan menyebutnya sebagai keputusan yang “tidak masuk akal.” Reaksi keras ini diperkirakan akan menambah ketegangan diplomatik antara London dan Tel Aviv.
Dampak Politik dan Isu Imigran
Pengakuan Inggris terhadap negara Palestina dipandang memiliki dampak yang lebih luas, tidak hanya di panggung internasional tetapi juga di dalam negeri.