Aksi-aksi seperti ini menimbulkan ketegangan sosial antara penggiat dan warga yang merasa dirugikan.
Sound Horeg memang telah menjadi hiburan populer bagi sebagian masyarakat, namun praktiknya yang seringkali kebablasan menimbulkan banyak pertanyaan. Apakah ini masih bisa disebut kesenian, atau justru bentuk ketidaktertiban publik?
Pemerintah daerah dan tokoh masyarakat diharapkan bisa mencari solusi yang adil—menjaga ruang berekspresi, namun tetap menghargai hak dan kenyamanan publik secara luas.***