4 Hal Mengapa Sound Horeg Menjadi Pro Kontra di Masyarakat

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Selasa, 5 Agustus 2025 | 14:59 WIB
penggunaan sound Horeg di dalam kampung (berbagai sumber)
penggunaan sound Horeg di dalam kampung (berbagai sumber)

KLIK SAJA - Fenomena Sound Horeg saat ini tengah menjadi sorotan publik, terutama setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mengeluarkan fatwa haram terhadap praktik kesenian ini.

Di beberapa daerah di Jawa Timur, Sound Horeg bukan sekadar hiburan, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari tradisi lokal dan budaya pop jalanan.

Namun, perdebatan sengit pun tak terhindarkan, khususnya di media sosial. Lantas, mengapa Sound Horeg menjadi begitu kontroversial?

Berikut empat alasan utama yang memicu pro dan kontra di masyarakat:

  1. Batas Maksimal Desibel: Bahaya Bagi Pendengaran

Salah satu kritik terbesar terhadap Sound Horeg adalah tingkat kebisingannya yang ekstrem.

Meski para penggiatnya mengklaim siap mematuhi batas maksimal desibel yang diperbolehkan, pada praktiknya, volume Sound Horeg bisa melebihi 120 desibel, angka yang sangat berbahaya bagi pendengaran manusia jika terpapar dalam waktu lama atau dari jarak dekat.

Ini tentu menjadi kekhawatiran bagi warga yang tinggal di sepanjang rute Sound Horeg berlangsung, terutama kelompok rentan.

  1. Sound Horeg Keliling: Mengganggu Ketenteraman Umum

Berbeda dari konser musik yang digelar di area khusus atau lapangan terbuka, Sound Horeg justru dilakukan dengan cara berkeliling kampung menggunakan kendaraan bermuatan soundsystem raksasa.

Aktivitas ini kerap dilakukan di siang atau malam hari, sehingga sering kali dianggap mengganggu masyarakat, terutama manula, bayi, dan orang sakit.

Suara bising yang menghentak sepanjang jalan membuat sebagian warga merasa terganggu ketenangannya.

  1. Tidak Edukatif dan Kurang Etis

Kritik lainnya datang dari sisi konten pertunjukan Sound Horeg. Meski pada awalnya hanya menampilkan musik, kini tak jarang diselingi dengan tarian erotis atau seronok yang dipertontonkan secara terbuka, bahkan di hadapan anak-anak.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang dampak moral dan edukasi terhadap generasi muda, terutama di wilayah pedesaan di mana pengawasan orang tua mungkin kurang maksimal.

  1. Potensi Merusak Properti dan Arogansi Panitia

Suara menggelegar dari Sound Horeg bukan hanya memekakkan telinga, tetapi juga berpotensi merusak properti warga, seperti kaca jendela, perabot rumah, bahkan plester bangunan.

Dalam beberapa kasus ekstrem, panitia Sound Horeg bahkan dengan sengaja menghancurkan pagar, tanaman, atau benda yang dianggap menghalangi jalur mereka.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X