Mendiang Alwi Shahab, seorang wartawan senior, menceritakan ulang bahwa saat Tahun Baru tiba, Batavia dipenuhi dengan festival dan acara meriah.
Pada kawasan Molenvliet, yang sekarang disebut Harmoni, masyarakat berkumpul untuk merayakan dengan berbagai pertunjukan seni dan jamuan makanan.
Keramaian ini menjadi daya tarik tersendiri, di mana orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat datang untuk merayakan bersama secara lintas suku dan agama.
Selain itu, tradisi unik juga muncul di Batavia, seperti melepas kapal kecil untuk menyusuri Sungai Ciliwung.
Bahkan sudah menjadi kebiasaan para bangsawan lokal seperti Raja atau Sultan sering berkorespondensi mengirimkan kartu ucapan selamat Tahun Baru kepada petinggi Hindia Belanda.
Selepas kemerdekaan, utamanya pada jaman pemerintahan Orde Lama, perayaan Tahun Baru Masehi agak berkurang gegap gempitanya.
Hal tersebut dikarenakan situasi politik belum stabil, serta haluan pemerintahan saat itu yang sangat anti-barat.
Perayaan tetap ada, walau hanya kecil-kecilan pada kelompok masyarakat tertentu.
Pada jaman Orde Baru, pengaruh Barat mulai menyeruak masuk secara signifikan, termasuk budaya Tahun Baru.
Pada era Perang Dingin, Amerika Serikat atau pihak Barat sangat gencar mempromosikan kebudayaannya, termasuk perayaan Tahun Baru Masehi secara meriah.
Pada masa ini, perayaan Tahun Baru Masehi secara meriah dipromosikan secara besar-besaran oleh pihak Barat ke seluruh dunia, apalagi hampir seluruh dunia memakai kalender Gregorian-Masehi.
Pada era ini pula mulai dikenal tradisi pesta hitung mundur, atraksi kembang api skala besar, pesta pertunjukkan musik malam Tahun Baru diperkenalkan oleh Barat kepada seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Di Indonesia, memang semenjak jaman Orde Baru, perayaan Tahun Baru Masehi dirayakan secara meriah hingga kini.